20 Mei 20011, ya itulah tanggal hari ini. bagi sebagian pencinta sepak bola indonesia mungkin ini tanggal yang di tunggu dan mungkin ada juga sebagian yang ingin men-”skip” tanggal ini karena sudah terlalu lelah untuk menantikan reformasi di kepemimpinan PSSI. seperti kita ketahui semua konggres yang di adakan komisi normalisasi (KN) ini di bayangi adanya kemungkinan gagalnya acara konggres karena kelompok – 78 (K-78) yang “ngotot” untuk mengusung pasangan Pak Goerge Toisutta dan Pak Arifin Panigoro sebagai calon ketua umum di konggres kali ini.
Pak Agum Gumelar di awal penunjukkan dirinya sebagai ketua normalisasi memperlihatkan upaya untuk merangkul semua pihak yang sedang terlibat konflik, salah satu keputusannya adalah di akuinya Liga Primer Indonesia (LPI) yang di gagas oleh Pak Arifin Panigoro oleh komisi normalisasi yang berimbas ikut di panggilnya pemain – pemain yang bermain di liga itu untuk mengikuti seleksi timnas U23. Akan tetapi Pak Agum Gumelar tidak dapat “meloloskan” pasangan yang biasa di sebut GT dan AP yang di usung K-78 untuk maju sebagai calon ketua, wakil ketua, maupun exco dalam konggres yang di adakan hari ini. hal ini didasarkan pada keputusan FIFA yang merujuk pada komisi banding sebelumnya.
Sebagai penikmat bola dan sebagai masyarkat indonesia wajar rasanya jika kita bertanya apakah keinginan dan motivasi sebenarnya dari para calon ketua umum ? apa pula sebenarnya yang mendasari keinginan K-78 untuk “ngotot” mendukung pasangan GT & Ap untuk tetap maju dalam konggres kali ini. sampai mereka mengajukan ke CAS untuk melakukan banding, tetapi bedasarkan berita terakhir dari goal mengenai di tolaknya banding mereka kita akan melihat besok apa yang akan terjadi pada konggres nanti.
Di satu sisi para pengurus tersebut sibuk untuk memilih ketua bahkan ada yang terkesan memaksakan jagonya sampai ke CAS . di sisi lain ada beberapa klub yang pemainnya belum di gaji lihat saja Deltras sidoarjo dan Arema Indonesia. Saya kira akan lebih bijak jika para pengurus tersebut lebih memfokuskan diri untuk memperhatikan prestasi, kesejahteraan dan keberlangsungan klub masing – masing untuk mengarungi kompetisi musim depan di tengah ancaman tanpa subsidi APBD.
Ditengah “kengototan” K-78 untuk memaksakan keinginannya yang berpotensi untuk merugikan sepak bola kita jika sampai terkena sanksi. hal ini juga mau tidak mau mengingatkan saya bagaimana “keras kepalanya” kubu Pak Nurdin Halid untuk mempertahankan kekuasaanya pada saat itu. yang menjadi pertanyaan jika sanksi tersebut benar – benar jatuh ke indonesia siapakah yang bisa kita minta pertanggung jawabannya? saya yakin PSSI hanya akan maju jika di pimpin oleh orang – orang yang Tulus, Profesional dan Cinta Bola, serta bukan pada orang – orang yang hanya haus akan kekuasaan.
Semoga dengan diadakannya konggres ini pada tanggal 20 Mei semangat kebangkitan juga akan menyelimuti konggres ini, Sehingga kita tidak semakin tertinggal dengan negara – negara lain khususnya di kawasan asia tenggara dan asia.