ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Update News

Bunda, Cegah Alzheimer dengan Kolin

Kamis , 10 Januari 2019 | 17:56
Bunda, Cegah Alzheimer dengan Kolin
Daging, ikan, telur dan produk susu adalah sumber utama kolin. (www.hsph.harvard.edu)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Ternyata nutrisi penting yang diasup ibu dapat melindungi masa depan kesehatan generasinya. Studi terbaru menunjukkan bahwa ibu yang mengasup makanan yang tinggi kandungan kolin dapat memperkecil dampak penyakit Alzheimer pada anak cucunya kelak.

Para peneliti dari Arizona State University (ASU) Amerika Serikat ini melansir temuan tersebut di jurnal Molecular Psychiatry, mengutip medicalnewstoday.com, Senin (10/1)

Dalam studinya, para ilmuwan membiakkan tikus yang secara genetik cenderung mengembangkan ciri khas penyakit Alzheimer dari betina yang makanannya diberi tambahan kolin. Nah, keturunan dari betina tersebut lebih kecil kecenderungan mengembangkan penyakit yang berkaitan dengan perubahan otak. Selain itu, keturunannya memiliki keterampilan memori yang lebih baik dibandingkan dengan tikus yang ibunya tidak diberi kolin tambahan.

Para peneliti dari Tempe and the Translational Genomics Research Institute ASU di Phoenix in membiakkan dua generasi tikus dari betina yang diberi asupan kolin tambahan. Mereka menemukan bahwa efek perlindungan dari “suplemenasti kolin ibu” bertahan selama beberapa generasi, meskipun makanan keturunannya tidak diperkaya dengan kolin.

Nutrisi Penting

Kolin adalah nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh untuk berbagai fungsi, termasuk perkembangan otak dini dan pemeliharaan struktur sel.

Memang tubuh manusia mampu memproduksi sendiri kolin di dalam hati, yang dibentuk dari asam amino. Namun kolin alam yang dihasilkan tubuh terbilang sedikit sehingga perlu asupan dari berbagai makanan. Daging,  ikan, telur, dan susu adalah sumber utama kolin dalam makanan. Sumber lain termasuk kedelai, sayuran, kacang-kacangan, gandum dan biji-bijian.

"Kekurangn kolin," kata penulis studi utama Dr. Ramon Velazquez dari Biodesign Institute di ASU, "terkait dengan kegagalan dalam mengembangkan janin sehingga sepenuhnya memenuhi tonggak yang diharapkan seperti berjalan dan berceloteh."

“Tapi yang kami lihat walaupun Anda memiliki jumlah kolin yang disarankan, menambahkan lebih banyak dalam model tikus ini memberi manfaat lebih besar," dia menambahkan.

Alzheimer

Penyakit Alzheimer adalah penyebab utama demensia, suatu kondisi yang secara bertahap menghancurkan kemampuan seseorang untuk berpikir, mengingat, membuat keputusan, dan mengurus diri sendiri. Itu juga dapat mengubah suasana hati dan mengurangi kontrol motorik.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), ada sekitar 50 juta orang di seluruh dunia yang menderita demensia, sebanyak 60-70 persennya menderita Alzheimer. Para ahli memperkirakan jumlah  tersebut akan lebih dari tiga kali lipat pada tahun 2050.

Usia adalah faktor risiko paling signifikan untuk penyakit Alzheimer, ada sejumlah bukti bahwa faktor-faktor lain, seperti genetika dan gaya hidup serta diet, juga berperan.

Efek Kolin pada Otak

Dalam makalahnya, para peneliti menjelaskan bahwa risiko mengembangkan penyakit Alzheimer berlipat ganda ketika ada asam amino tingkat tinggi yang disebut homocysteine di otak. Zat ini berkontribusi terhadap kerusakan jaringan otak dan pengembangan plak beta-amiloid.

Namun, kolin dapat memperlambat penurunan ini karena mengubah homocysteine menjadi zat bermanfaat yang disebut methionine.

Bukan itu saja, efek kolin lain yang berpotensi bermanfaat adalah mengurangi aktivitas sel mikroglia. Sel-sel ini membantu membersihkan bahan limbah di otak. Namun, pada penyakit Alzheimer, mereka bisa menjadi hiperaktif dan menyebabkan peradangan yang membunuh sel-sel otak.

Untuk mengeksplorasi mekanisme suplementasi kolin ibu, tim memeriksa jaringan otak hippocampal pada keturunan tikus betina. Hippocampus adalah daerah otak yang berperan penting dalam membentuk ingatan.

Pemeriksaan mengungkapkan bahwa suplementasi kolin pada ibu mengurangi aktivasi mikroglia dan protein beta-amiloid dan "meningkatkan defisit kognitif" pada keturunan generasi pertama dan kedua.

 "Secara mekanis," para penulis mencatat, "perubahan ini terkait dengan penurunan level [homocysteine] otak pada kedua generasi."

Analisis genetik lebih lanjut dari jaringan hippocampal mengungkapkan bahwa suplementasi kolin pada ibu "secara signifikan mengubah ekspresi 27 gen" pada keturunan. Ada hubungan yang diketahui antara banyak gen ini dengan peradangan dan kematian sel otak.

"Tidak ada yang pernah memperlihatkan manfaat suplementasi kolin pada beberapa generasi. Itulah yang baru tentang pekerjaan kita."

Editor : Suzana Lay
KOMENTAR