ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Update News

Perut Gendut dan Risiko Pikun

Jumat , 11 Januari 2019 | 16:07
Perut Gendut dan Risiko Pikun
Penelitian telah mengaitkan obesitas dan penyusutan otak. (healthline.com)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ada hubungan apa antara perut gendut dan demensia? Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Neurology, Rabu (9/1), mengungkapkan bahwa orang gemuk cenderung mengalami penyusutan otak di usia paruh baya, terutama jika kelebihan lemaknya terkonsentrasi di perut. 

Mengutip HealthDay News yang dilansir di laman webmd.com, penelitian terhadap 9.600 orang dewasa di Inggris menemukan bahwa mereka yang obesitas biasanya memiliki volume materi abu-abu (grey matter) di otak yang lebih rendah daripada rekan-rekan mereka yang memiliki berat badan normal. Materi abu-abu mengandung sebagian besar sel-sel saraf otak - sedangkan materi putih mengandung serat saraf yang menghubungkan berbagai bagian otak.

Penelitian sebelumnya telah mengaitkan penyusutan materi abu-abu dengan peningkatan risiko demensia—yang dikenal pula dengan sebutan pikun atau yang dianggap sebagai penyakit khas orang tua--di masa depan.

Namun, para peneliti mengingatkan bahwa mereka tidak dapat menarik kesimpulan tegas dari temuan terbaru ini. Pemimpin studi, Mark Hamer, menjelaskan studi ini hanya menemukan hubungan antara obesitas dan penyusutan materi abu-abu  di otak. Tapi, kata dia, studi ini tidak membuktikan obesitas menyebabkan penyusutan materi abu-abu. Apalagi, ini bukan penelitian jangka panjang.

"Karena kami hanya mengukur volume materi abu-abu pada satu kesempatan, sulit untuk menafsirkan apakah perbedaan itu bermakna secara klinis," kata Hamer, profesor di Loughborough University di Leicestershire, Inggris.

Sejumlah penelitian telah melihat apakah orang paruh baya yang gemuk memiliki risiko lebih untuk mengembangkan demensia dan sampai pada kesimpulan yang beragam. Beberapa tidak menemukan korelasi, sementara yang lain mengungkapkan bahwa tambahan beberapa kilogram berat badan dapat meningkatkan atau menurunkan risiko demensia.

Claudia Satizabal, asisten profesor neurologi di Universitas Boston, Amerika Serikat, memaparkan beberapa kemungkinan penjelasan mengenai perbedaan-perbedaan tersebut. Menurut dia, orang yang akhirnya mengalami demensia dapat mulai kehilangan berat badan lima hingga 10 tahun sebelum gejalanya terlihat jelas. Inilah yang memperkeruh hubungan antara obesitas dan risiko demensia.

Itu sebabnya penting bagi penelitian untuk melihat indikator risiko demensia sebelumnya, seperti penyusutan volume otak, kata Satizabal, yang tidak terlibat dalam penelitian baru tersebut.

"Ini pelajaran yang bagus," kata perempuan peneliti ini. "Demensia adalah proses yang panjang dan ini terlihat pada ciri yang terjadi di sepanjang perjalanan prosesnya."

Penelitian ini melibatkan 9,652 orang yang rata-rata berusia 55 tahun dan 19 persen mengalami obesitas.

Secara keseluruhan, pria dan perempuan  yang obesitas umumnya menunjukkan volume materi abu-abu yang lebih rendah pada pemindaian otak MRI, dibandingkan peserta dengan berat normal.

Pengurangan materi abu-abu terbesar terlihat pada orang gemuk yang banyak kelebihan berat di bagian perut. Perbedaan muncul di beberapa daerah otak, termasuk yang terlibat dalam mengatur perilaku dan gerakan, kata para peneliti.

Lantas kenapa obesitas memiliki hubungan dengan ukuran otak? Kemungkinan, kata Hamer, obesitas dan kaitannya dengan kondisi kesehatan --seperti tekanan darah tinggi dan diabetes tipe 2 - dapat merusak jantung dan pembuluh darah, yang dapat mempengaruhi aliran darah ke otak.

Timnya meneliti pula apakah peserta penelitian memiliki penyakit jantung, diabetes atau tekanan darah tinggi dan apakah mereka merokok, minum alkohol atau berolahraga secara teratur. Hasilnya, obesitas itu sendiri memang terkait dengan volume materi abu-abu yang lebih rendah.

Itu menunjukkan mungkin ada hal-hal lain yang terjadi, ujar Hamer.

Kemungkinan lain, menurut Satizabal,  bahwa kelebihan lemak itu sendiri memiliki dampak. Jaringan lemak melepaskan berbagai hormon dan produk sampingan metabolisme yang dapat memengaruhi kesehatan otak, menurut penelitian.

Belum jelas apakah obesitas, setidaknya di usia paruh baya, merupakan faktor risiko demensia. Tetapi, Satizabal menegaskan, "semakin banyak bukti mengarah ke sana."

Lebih jauh Hamer memperlihatkan gambaran yang lebih besar bahwa obesitas adalah faktor risiko yang ditetapkan untuk berbagai kondisi medis lainnya. Karena itu, "orang harus berusaha mempertahankan berat badan yang normal," pungkas dia.

Editor : Suzana Lay
KOMENTAR