Kurs Rupiah Ditutup Melemah, Investor Cermati Risiko Perang dan Kebijakan AS


 Kurs Rupiah Ditutup Melemah, Investor Cermati Risiko Perang dan Kebijakan AS Karyawan memperlihatkan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/wsj.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Senin (8/6/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 152 poin atau sekitar 0,84 persen ke level Rp18.188 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi sebelumnya di Rp18.036 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap situasi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas. Konflik yang melibatkan Israel, Iran, dan Lebanon membuat pelaku pasar global cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa meningkatnya ketegangan kawasan menjadi salah satu faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Menurutnya, serangan terbaru yang dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Iran, seperti Teheran, Tabriz, dan Isfahan, telah mengurangi optimisme pasar terhadap peluang tercapainya perdamaian dalam waktu dekat. Kondisi tersebut juga memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak mentah dunia melalui Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi global.

Di sisi lain, Israel dilaporkan melakukan serangan terhadap fasilitas petrokimia di wilayah barat daya Iran serta beberapa target militer lainnya. Situasi ini berlangsung meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut meminta pemerintah Israel untuk menahan diri dari aksi militer lanjutan.

Ketegangan semakin meningkat setelah Iran meluncurkan serangan balasan berupa rudal ke sejumlah target Israel. Sementara itu, konflik di Lebanon juga masih berlanjut setelah militer Israel menyerang kawasan pinggiran Beirut selatan sebagai respons atas serangan kelompok Hizbullah.

Rangkaian perkembangan tersebut membuat pasar keuangan global bergerak lebih berhati-hati. Investor kini mencermati potensi dampak konflik terhadap pasokan energi dunia, inflasi global, hingga arah kebijakan moneter negara-negara besar.

Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga didukung oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan. Data Non-Farm Payrolls (NFP) menunjukkan penambahan 172 ribu lapangan kerja sepanjang Mei 2026, jauh melampaui ekspektasi pasar yang hanya sekitar 85 ribu pekerjaan.

Tak hanya itu, data April juga direvisi naik menjadi 179 ribu pekerjaan dari sebelumnya 115 ribu pekerjaan. Sementara tingkat pengangguran AS tercatat tetap stabil di angka 4,3 persen.

Data ekonomi yang solid tersebut memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) belum memiliki alasan kuat untuk segera menurunkan suku bunga. Bahkan, sebagian pelaku pasar menilai peluang mempertahankan suku bunga tinggi masih cukup besar, terutama jika harga energi dunia terus meningkat akibat konflik geopolitik.

Kombinasi antara meningkatnya risiko geopolitik dan kuatnya data ekonomi AS membuat dolar AS semakin diminati investor global. Dampaknya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan dikutip Antara.

Sejalan dengan pergerakan di pasar spot, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia juga melemah ke level Rp18.171 per dolar AS. Posisi ini lebih rendah dibandingkan hari sebelumnya yang berada di level Rp18.039 per dolar AS.

Pelaku pasar kini akan terus memantau perkembangan konflik di Timur Tengah serta arah kebijakan The Fed dalam beberapa pekan ke depan. Kedua faktor tersebut diperkirakan masih menjadi penentu utama pergerakan rupiah dan pasar keuangan global.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru