Ekonom: Kenaikan BI-Rate Bikin Aset Rupiah Lebih Menarik, tapi Bukan Solusi Jangka Panjang


 Ekonom: Kenaikan BI-Rate Bikin Aset Rupiah Lebih Menarik, tapi Bukan Solusi Jangka Panjang Petugas menghitung uang rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Senin (27/10/2025). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate dinilai sebagai langkah yang tepat untuk meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kebijakan tersebut diyakini dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi rupiah sekaligus membantu menahan arus keluar modal asing.

Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede, mengatakan kenaikan BI-Rate dalam jangka pendek berpotensi memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan domestik. Dengan imbal hasil yang lebih tinggi, aset rupiah menjadi lebih menarik bagi investor sehingga dapat mengurangi tekanan jual terhadap mata uang nasional.

“Kebijakan ini juga dapat meredam spekulasi pelemahan rupiah, terutama jika didukung oleh peningkatan daya tarik Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), penurunan biaya lindung nilai, serta intervensi pasar valuta asing yang dilakukan secara terukur,” ujar Josua di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Meski demikian, ia menilai efektivitas kebijakan tersebut tidak terjadi secara otomatis. Stabilitas rupiah akan lebih mudah tercapai apabila kenaikan suku bunga diiringi komunikasi kebijakan yang jelas, disiplin pengelolaan anggaran negara, serta koordinasi yang kuat antara pemerintah dan Bank Indonesia.

Menurut Josua, jika faktor-faktor yang menjadi kekhawatiran investor masih belum teratasi, maka penguatan rupiah berpotensi hanya berlangsung sementara.

BI Ingin Kirim Sinyal Kuat ke Pasar

Josua menjelaskan bahwa langkah menaikkan BI-Rate menunjukkan Bank Indonesia ingin memberikan sinyal kuat kepada pasar bahwa tekanan terhadap rupiah tidak cukup ditangani hanya melalui intervensi di pasar valuta asing.

Peningkatan suku bunga diperlukan untuk memperbesar imbal hasil aset rupiah sehingga dapat mendorong masuknya kembali aliran modal asing ke dalam negeri.

Ia menilai kebijakan tersebut bersifat defensif dan diperlukan dalam kondisi saat ini, terutama ketika rupiah telah menembus level psikologis penting, tekanan ekonomi global masih tinggi, harga energi berisiko meningkat, dan investor asing masih cenderung berhati-hati.

“Membiarkan rupiah melemah terlalu jauh justru berisiko memicu inflasi, menurunkan kepercayaan pasar, serta meningkatkan biaya pembiayaan pemerintah maupun sektor swasta,” jelasnya.

Pemerintah Diminta Perkuat Kepercayaan Investor

Selain langkah moneter dari Bank Indonesia, Josua menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga kepercayaan pasar.

Ia menilai pemerintah perlu menunjukkan disiplin fiskal, memastikan penggunaan anggaran yang lebih selektif, memperkuat penerimaan negara, memberikan kepastian regulasi, serta membangun komunikasi yang berbasis data dan menenangkan pelaku pasar.

Menurutnya, apabila persepsi investor terhadap kebijakan fiskal dan regulasi tidak membaik, maka Bank Indonesia akan menghadapi beban yang lebih besar dalam menjaga stabilitas rupiah.

“Biaya yang harus dikeluarkan untuk mempertahankan stabilitas ekonomi bisa menjadi semakin mahal jika hanya mengandalkan kebijakan suku bunga,” ujarnya dikutip Antara.

Dampak Kenaikan BI-Rate bagi Ekonomi Nasional

Josua menjelaskan bahwa kenaikan BI-Rate memiliki dampak yang bersifat dua arah terhadap perekonomian.

Di satu sisi, kebijakan tersebut membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, menahan kenaikan harga barang impor, dan melindungi daya beli masyarakat dari ancaman inflasi yang lebih tinggi.

Namun di sisi lain, kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan biaya dana perbankan. Akibatnya, bunga kredit menjadi lebih sulit turun sehingga pelaku usaha dan masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan pinjaman maupun ekspansi usaha.

Sektor-sektor yang sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga diperkirakan akan merasakan dampak lebih cepat. Beberapa di antaranya adalah sektor properti, otomotif, pembiayaan konsumsi, serta usaha yang mengandalkan pinjaman jangka pendek.

Karena itu, Josua mengingatkan bahwa kebijakan ini memang penting untuk menjaga stabilitas ekonomi, tetapi dapat menjadi beban bagi pertumbuhan jika diterapkan terlalu lama.

Pada akhirnya, ia menegaskan bahwa kenaikan BI-Rate merupakan langkah yang rasional dan diperlukan untuk menahan tekanan terhadap rupiah, mengendalikan inflasi, serta menarik kembali minat investor asing.

Namun, keberhasilan menjaga stabilitas rupiah dalam jangka panjang tetap bergantung pada kredibilitas fiskal, kepastian kebijakan, serta reformasi yang mampu memperbaiki iklim investasi di Indonesia.

“Tanpa dukungan faktor-faktor tersebut, stabilisasi rupiah berpotensi hanya bersifat sementara dan biaya yang harus ditanggung perekonomian bisa semakin besar,” pungkasnya.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru