Bank Indonesia: Bali Masih Jadi Magnet Investor Asing dan Domestik


 Bank Indonesia: Bali Masih Jadi Magnet Investor Asing dan Domestik Dokumentasi - BI Bali menampilkan peragaan busana karya UMKM fesyen di sela penutupan ajang promosi ekonomi tahunan Bali Jagadhita di Mal Bali Galeria, Kuta, Kabupaten Badung, Minggu (7/6/2026) (ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna)

DENPASAR, ARAHKITA.COM – Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan ketidakpastian ekonomi dunia, Bali tetap menunjukkan daya tarik kuat sebagai tujuan investasi. Bank Indonesia (BI) menilai Pulau Dewata masih menjadi salah satu daerah yang menjanjikan bagi investor, baik dari dalam maupun luar negeri.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, mengatakan kinerja investasi Bali terus menunjukkan tren positif meskipun kondisi ekonomi global masih penuh tantangan.

“Kinerja investasi Bali terus menguat di tengah ketidakpastian global,” ujarnya di Denpasar, Selasa (9/6/2026).

Optimisme tersebut didukung oleh sejumlah faktor, mulai dari insentif yang diberikan pemerintah, stabilitas ekonomi daerah, hingga posisi Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia yang memiliki daya saing tinggi.

Untuk mendorong masuknya investasi baru, Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Bali telah menyusun katalog investasi yang memuat 22 proyek potensial di sektor infrastruktur dan pengembangan wilayah.

Sejumlah proyek strategis yang ditawarkan kepada investor antara lain Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur, proyek penerangan jalan, hingga pengadaan kendaraan listrik yang mendukung pengembangan ekonomi hijau di Bali.

Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Bali sepanjang 2025 mencapai Rp42,82 triliun. Angka tersebut meningkat 17,85 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan investasi tersebut juga memberikan dampak signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja. Sepanjang 2025, investasi yang masuk ke Bali berhasil menyerap lebih dari 68 ribu tenaga kerja, memperkuat perannya sebagai salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi daerah.

Meski demikian, BI menilai masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi, terutama terkait pemerataan investasi. Saat ini sekitar 88 persen investasi masih terkonsentrasi di wilayah Bali Selatan, sementara 97 persen investasi didominasi sektor tersier atau sektor jasa.

Kabupaten Badung menjadi wilayah dengan realisasi investasi terbesar mencapai Rp22,21 triliun. Posisi berikutnya ditempati Kota Denpasar sebesar Rp10,61 triliun, Kabupaten Gianyar Rp4,96 triliun, dan Kabupaten Tabanan sebesar Rp2,04 triliun.

Dari sisi sektor usaha, investasi paling banyak mengalir ke sektor real estat, penyediaan akomodasi, serta usaha makanan dan minuman. Sementara itu, lima negara dengan nilai investasi terbesar di Bali berasal dari Australia sebesar Rp3,89 triliun, Singapura dan Rusia masing-masing Rp3 triliun, Prancis Rp1,95 triliun, serta Belanda Rp1,41 triliun.

Menurut Achris, kondisi tersebut menjadi alasan penting untuk mendorong investasi yang lebih merata dan beragam, baik dari sisi wilayah maupun sektor ekonomi.

“Kondisi ini mendorong perlunya penguatan investasi yang lebih inklusif, merata, dan terdiversifikasi antarwilayah maupun sektor ekonomi,” katanya dikutip Antara.

Ke depan, Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Bali tetap tumbuh solid pada 2026 di kisaran 5,4 hingga 5,9 persen. Prospek tersebut didukung oleh stabilitas inflasi, optimisme pelaku usaha yang masih terjaga, berbagai insentif pemerintah, serta daya saing daerah yang dinilai sangat baik.

Dengan fondasi ekonomi yang kuat dan sektor pariwisata yang terus berkembang, Bali diperkirakan tetap menjadi salah satu destinasi investasi paling menarik di Indonesia, bahkan ketika dunia masih menghadapi berbagai tantangan geopolitik dan ekonomi.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru