Aktor Hollywood ternama Brad Pitt (kiri) dan Tom Cruise (kanan) di pemutaran film "F1". ANTARA/HO-Instagram @tomcruise
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Dunia hiburan kembali diguncang polemik kecerdasan buatan. Serikat aktor Amerika Serikat, SAG-AFTRA (Screen Actors Guild-American Federation of Television and Radio Artists), secara terbuka mengecam model video AI terbaru milik ByteDance,
Seedance 2.0.Teknologi tersebut dinilai membuka peluang pelanggaran hak cipta dan penggunaan rupa serta suara aktor tanpa izin. Dalam pernyataan resminya, SAG-AFTRA menyebut Seedance 2.0 telah mengabaikan prinsip dasar persetujuan dan kompensasi yang selama ini diperjuangkan industri hiburan.
Menurut laporan media hiburan Variety, model AI ini mampu menghasilkan video sinematik dengan menggabungkan audio dan visual secara realistis. Namun, kecanggihannya justru memicu kekhawatiran karena berpotensi mengeksploitasi identitas para aktor.Presiden SAG-AFTRA,
Sean Astin, termasuk salah satu figur yang wajahnya diduga digunakan dalam video AI tanpa persetujuan. Dalam salah satu konten yang beredar, karakter yang menyerupai dirinya tampil sebagai Samwise Gamgee dari film The Lord of the Rings, lengkap dengan dialog ikonik yang dimodifikasi.
Tak hanya itu, video lain juga memperlihatkan adegan fiktif yang menampilkan aktor papan atas seperti Brad Pitt dan Tom Cruise dalam adegan laga yang tidak pernah mereka perankan.
Kritik juga datang dari raksasa hiburan The Walt Disney Company, yang melayangkan surat penghentian dan peringatan (cease and desist) kepada ByteDance. Disney menilai Seedance 2.0 memanfaatkan karakter berhak cipta dari waralaba besar seperti Star Wars dan Marvel tanpa izin resmi.
Asosiasi industri film Motion Picture Association turut menyuarakan keprihatinan dan mendesak penghentian dugaan pelanggaran tersebut.
Sementara itu, koalisi hak seniman Human Artistry Campaign menyebut peluncuran Seedance 2.0 sebagai ancaman serius bagi kreator di seluruh dunia.
Isu ini kembali mengingatkan publik pada mogok kerja SAG-AFTRA tahun 2023, ketika serikat tersebut menuntut adanya aturan tegas terkait penggunaan AI atas rupa dan suara aktor. Prinsip “persetujuan dan kompensasi” menjadi garis tegas yang hingga kini terus diperjuangkan.
Perdebatan soal AI dan hak cipta pun kian menguat. Di satu sisi, teknologi membuka ruang kreativitas baru. Namun di sisi lain, tanpa regulasi yang jelas, inovasi bisa berubah menjadi ancaman bagi pekerja kreatif, seperti yang dikutip dari Antara.