AS akan Kurangi Pasukan di Eropa, NATO Diminta Perkuat Kekuatan Tempur Hadapi Rusia


 AS akan Kurangi Pasukan di Eropa, NATO Diminta Perkuat Kekuatan Tempur Hadapi Rusia AS akan Kurangi Pasukan di Eropa, NATO Diminta Perkuat Kekuatan Tempur Hadapi Rusia. (Pixabay)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Kepala kebijakan Pentagon, Elbridge Colby, meminta negara-negara anggota NATO di Eropa meningkatkan kemampuan tempur mereka dan mengambil peran utama dalam melindungi kawasan dari ancaman Rusia. Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan para menteri pertahanan di Brussels.

Colby menegaskan Amerika Serikat berencana mengurangi penempatan pasukan konvensional di Eropa, meski tetap berkomitmen pada aliansi militer tersebut. Ia hadir menggantikan atasannya dan membawa pesan langsung dari Gedung Putih.

Menurutnya, negara-negara Eropa harus melampaui sekadar komitmen politik dan mulai menunjukkan hasil nyata dalam kesiapan militer, termasuk struktur kekuatan, logistik, dan kapasitas industri pertahanan yang relevan dengan konflik modern. Ia menilai efektivitas perang harus menjadi prioritas dibanding prosedur birokrasi.

Musim panas lalu, anggota NATO Eropa sepakat meningkatkan belanja pertahanan inti hingga 3,5 persen dari produk domestik bruto pada 2035 untuk mendekati level AS, namun implementasi konkret target tersebut masih belum jelas.

Pidato Colby sebenarnya disampaikan secara tertutup kepada 31 sekutu NATO, tetapi kemudian dirilis oleh Pentagon. Ia menekankan bahwa Washington tetap menyediakan perlindungan nuklir bagi sekutu, meski jumlah pasukan AS di Eropa yang saat ini sekitar 85.000 personel akan ditempatkan secara lebih terbatas dan terfokus.

Colby dikenal sebagai salah satu pejabat yang paling vokal mendorong pergeseran fokus militer AS dari Eropa ke kawasan lain. Ia menilai kepentingan paling vital Washington berada di Asia dan di dalam negeri, sehingga Eropa harus memimpin pertahanan konvensionalnya sendiri.

Meski demikian, ia menegaskan komitmen AS terhadap pasal 5 NATO tetap berlaku. Pasal itu menyatakan bahwa serangan terhadap satu negara anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh aliansi, sebuah prinsip yang sempat dipertanyakan oleh Donald Trump.

Ketegangan sebelumnya muncul ketika Trump berulang kali menekan Denmark agar menyerahkan Greenland kepada AS, bahkan sempat memberi sinyal tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer. Pernyataan itu memicu kekhawatiran di antara sekutu NATO.

Sekretaris jenderal NATO, Mark Rutte, berupaya meredakan situasi dengan menyebut perbedaan pendapat sebagai hal biasa dalam aliansi demokratis. Ia menilai pernyataan Colby justru menunjukkan bahwa AS masih berpegang teguh pada NATO dan komitmen pertahanan bersama.

Diplomat Eropa tetap menganggap Colby tokoh penting karena kedekatannya dengan wakil presiden JD Vance. Sebelumnya, menteri luar negeri Marco Rubio juga sempat melewatkan pertemuan NATO dan mengirim wakilnya, Christopher Landau.

Dalam pertemuan terbaru itu, Colby tetap mengikuti seluruh sesi selama tiga jam dan mendengarkan pidato singkat dari 31 menteri pertahanan lainnya, yang dipandang sebagai sinyal penghormatan kepada sekutu.

Sementara itu, menteri pertahanan Inggris John Healey menyatakan negara-negara pendukung Ukraina berkomitmen menyediakan bantuan militer senilai 35 miliar dolar AS tahun ini melalui kelompok kontak yang beranggotakan sekitar 50 negara.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru