Loading
Ilustrasi - Gangguan GPS di Teluk Persia melonjak akibat perang elektronik Iran-AS-Israel. (Ilustrasi AI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Perang modern tak lagi hanya soal peluru dan rudal. Di balik layar, ada “pertempuran sunyi” yang kini semakin terasa dampaknya: perang elektronik.
Sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada 28 Februari, gangguan terhadap sistem navigasi berbasis satelit—terutama GPS—melonjak drastis di kawasan Teluk Persia. Dampaknya? Bukan hanya militer, tapi juga kehidupan sipil ikut terganggu.
Kapal ‘Berlayar’ di Daratan
Beberapa jam setelah serangan awal diluncurkan, perusahaan analisis data maritim Kpler mendeteksi sesuatu yang janggal. Sejumlah kapal di Teluk Persia tampak “berlayar” di atas daratan jika dilihat dari data GPS.
Tak hanya itu, jalur pelayaran mereka terlihat berbelok tajam dengan pola aneh seperti poligon. Ini bukan kesalahan navigasi biasa—melainkan indikasi kuat adanya manipulasi sinyal.
Fenomena ini dikenal sebagai spoofing, yaitu teknik memalsukan data lokasi agar sistem navigasi “tertipu”. Dalam praktiknya, kapal bisa terlihat berada di tempat yang sama sekali berbeda dari posisi sebenarnya.
Dari Taktik Tersembunyi Jadi Fenomena Massal
Sebenarnya, spoofing bukan hal baru. Selama bertahun-tahun, praktik ini sudah digunakan—terutama oleh kapal tanker—untuk menghindari pelacakan dan sanksi internasional, termasuk dalam ekspor minyak Iran.
Namun sejak konflik terbaru pecah, skalanya melonjak tajam.
Dalam 24 jam pertama saja, lebih dari 1.100 kapal dilaporkan mengalami gangguan sistem identifikasi otomatis (AIS). Bahkan dalam sepekan, angka gangguan meningkat hingga 55%.
Artinya, yang dulu bersifat “operasi senyap”, kini berubah menjadi gangguan masif yang berdampak luas.
Mengapa GPS Diserang?
Gangguan ini bukan tanpa tujuan. Dalam konteks perang modern, mengacaukan sinyal navigasi adalah strategi defensif.Dengan “membutakan” GPS, sistem navigasi pada drone dan rudal musuh bisa dibuat melenceng dari target. Ini menjadi cara efektif untuk melindungi infrastruktur penting tanpa harus menembak langsung.
Teknik ini juga pernah terlihat dalam konflik lain, seperti perang Rusia-Ukraina sejak 2022.Namun, ada konsekuensi besar.
Dampak Nyata: Dari Udara hingga Darat
Gangguan GPS tak hanya dirasakan militer, tapi juga merembet ke kehidupan sehari-hari.
Yang lebih mengkhawatirkan, sistem darurat juga ikut terdampak. Ketika GPS terganggu, respons terhadap kecelakaan atau kondisi kritis bisa melambat.
Di wilayah seperti Selat Hormuz—yang lebarnya hanya sekitar 33 km di titik tersempit—akurasi posisi menjadi sangat krusial. Kesalahan kecil bisa berujung tabrakan atau kapal kandas sebagaimana dilaporkan dan dikutip dari CNBC.
Apakah Iran Beralih ke Sistem China?
Di tengah kekacauan ini, muncul spekulasi bahwa Iran mulai menggunakan sistem navigasi satelit milik China, BeiDou.
Beberapa analis menilai akses ke BeiDou bisa meningkatkan akurasi serangan rudal Iran. Sistem ini memang terus berkembang dan kini menjadi salah satu jaringan navigasi terbesar di dunia, bersaing dengan GPS (AS), Galileo (Eropa), dan GLONASS (Rusia).Namun, tidak semua pihak menganggap ini sebagai perubahan besar.
Teknologi modern memungkinkan perangkat navigasi menerima sinyal dari berbagai sistem sekaligus. Artinya, penggunaan BeiDou bukan sesuatu yang luar biasa—dan tetap memiliki kerentanan yang sama terhadap gangguan.
GPS Tak Lagi Sepenuhnya Aman
Situasi di Teluk Persia menunjukkan satu hal penting: ketergantungan dunia terhadap GPS menyimpan risiko besar.
Di zona konflik, sistem navigasi bisa dengan mudah dimanipulasi atau dilumpuhkan. Dan ketika itu terjadi, dampaknya tidak hanya dirasakan militer, tetapi juga pelayaran global, penerbangan, hingga layanan sipil sehari-hari.
Perang elektronik mungkin tak terlihat, tapi efeknya nyata—dan semakin sulit dihindari.