Loading
Situasi sebuah bengkel mobil yang hancur akibat serangan rudal Israel, Teheran, Iran, Sabtu (28/3/2026). ANTARA/Xinhua/aa.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Kali ini, Rusia melontarkan tuduhan serius terhadap Inggris terkait serangan militer Amerika Serikat ke Iran.
Duta Besar Rusia untuk Inggris, Andrey Kelin, menyebut bahwa London tidak bisa lagi mengklaim dirinya netral. Menurutnya, Inggris justru terlibat langsung dalam operasi militer tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Kelin kepada media Rusia, RIA Novosti. Ia menyoroti keputusan Inggris yang mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militernya sebagai titik operasi serangan ke Iran.
Sebelumnya, pada awal Maret, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memang mengonfirmasi bahwa pemerintahnya menyetujui permintaan Washington untuk memanfaatkan fasilitas militer Inggris. Tujuannya adalah menyerang depot rudal milik Iran.
Namun, bagi Rusia, langkah ini bukan sekadar dukungan teknis.
Kelin bahkan menyindir keras sikap Inggris yang selama ini mengklaim hanya memberikan bantuan defensif sambil tetap mendorong jalur diplomasi.
“Mereka mengatakan tidak ikut campur, tapi kenyataannya berbeda. Membiarkan serangan diluncurkan dari wilayah mereka adalah bentuk keterlibatan langsung,” tegasnya.
Ia juga menilai langkah Inggris tersebut tidak akan luput dari perhatian Iran, yang kemungkinan besar sudah membaca situasi ini sebagai bentuk keterlibatan aktif.
Tak hanya itu, Kelin menuding Inggris berupaya memperluas tekanan internasional terhadap Iran dengan mendorong negara lain untuk ikut berseberangan.
Serangan dan Balasan yang Memicu Eskalasi
Ketegangan ini bermula pada 28 Februari, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan serta korban jiwa dari kalangan sipil.
Sebagai respons, Iran tidak tinggal diam. Negara itu melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah dikutip Antara.
Awalnya, Washington dan Tel Aviv menyebut operasi tersebut sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman dari program nuklir Iran. Namun belakangan, muncul pernyataan yang mengindikasikan adanya tujuan lebih besar, termasuk kemungkinan perubahan kekuasaan di Iran.
Situasi Kian Kompleks
Dengan saling tuding dan aksi balasan yang terus berlanjut, situasi di kawasan semakin sulit diprediksi. Keterlibatan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, dan Israel membuat konflik ini berpotensi meluas.
Pernyataan Rusia terhadap Inggris pun menambah lapisan baru dalam dinamika global yang sudah tegang.
Kini, perhatian dunia tertuju pada langkah selanjutnya: apakah konflik ini akan mereda melalui diplomasi, atau justru semakin membesar menjadi krisis yang lebih luas?