Loading
Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat ANTARAAnadolupy/pri
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Sebuah momen langka terjadi dalam hubungan panas antara Iran dan Amerika Serikat. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dan Wakil Presiden AS, J.D. Vance, terlihat berjabat tangan dalam perundingan yang digelar di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/4/2026).
Pertemuan ini menjadi sorotan internasional, mengingat hubungan kedua negara yang selama ini kerap berada dalam ketegangan tinggi. Jabat tangan tersebut dinilai sebagai simbol mencairnya komunikasi, meski belum tentu mencerminkan kesepakatan besar dalam waktu dekat.
Mengutip laporan The New York Times, pembicaraan berlangsung dalam suasana yang relatif tenang dan bersahabat. Dua pejabat senior Iran yang menjadi sumber laporan itu menyebut dialog berjalan tanpa ketegangan berarti, namun belum menghasilkan terobosan konkret.
Delegasi Iran dipimpin langsung oleh Ghalibaf, didampingi sejumlah tokoh penting, seperti Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Ketua Dewan Keamanan Nasional Ali Akbar Ahmadian, serta Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati.
Di sisi lain, delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh J.D. Vance. Ia turut didampingi dua tokoh dekat Presiden Donald Trump, yakni utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, yang juga merupakan menantu Trump.
Meski pertemuan ini belum melahirkan kesepakatan strategis, sinyal komunikasi yang terbuka tetap dianggap penting dalam dinamika geopolitik global, khususnya terkait stabilitas kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, pada Rabu (8/4/2026), Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Iran dan AS telah mencapai kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan. Langkah ini kemudian diikuti oleh pernyataan Abbas Araghchi yang menyebutkan pembukaan kembali Selat Hormuz dikutip Antara.
Selat tersebut merupakan jalur vital dunia, yang menyumbang sekitar 20 persen distribusi minyak, produk petroleum, dan gas alam cair (LNG) global. Karena itu, setiap perkembangan terkait kawasan ini selalu menjadi perhatian besar bagi pasar energi internasional.
Pertemuan di Islamabad pun kini dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas tersebut, meski jalan menuju kesepakatan jangka panjang masih terbilang panjang.