China Dukung Upaya Damai AS-Iran, Dorong Gencatan Senjata di Timur Tengah


 China Dukung Upaya Damai AS-Iran, Dorong Gencatan Senjata di Timur Tengah Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah China menyatakan dukungan terhadap setiap langkah yang mengarah pada perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, terutama di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa Beijing menyambut baik upaya yang dapat menghentikan konflik serta mendorong stabilitas kawasan.

“China menyambut baik semua upaya yang kondusif untuk mengakhiri konflik, dan memuji Pakistan karena telah menengahi gencatan senjata sementara AS-Iran dan peran mediasi yang adil dan seimbang,” ujar Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (15/4/2026).

Menurut Guo, prioritas utama saat ini adalah mencegah pecahnya kembali pertempuran serta menjaga momentum gencatan senjata yang dinilai belum sepenuhnya stabil. Ia menekankan bahwa jalur diplomasi harus tetap menjadi pilihan utama dalam menyelesaikan konflik.

Dalam pertemuan dengan Putra Mahkota Uni Emirat Arab, Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Presiden Xi Jinping juga disebut menyampaikan empat prinsip utama terkait perdamaian di Timur Tengah. Prinsip tersebut mencakup hidup berdampingan secara damai, penghormatan terhadap kedaulatan negara, supremasi hukum internasional, serta keseimbangan antara pembangunan dan keamanan.

“Yaitu, tetap berkomitmen pada prinsip hidup berdampingan secara damai, prinsip kedaulatan nasional, prinsip supremasi hukum internasional, dan pendekatan yang seimbang terhadap pembangunan dan keamanan,” jelas Guo.

China menegaskan bahwa pendekatan tersebut mencerminkan konsistensi Beijing dalam mendorong dialog sebagai jalan keluar dari konflik berkepanjangan.

“China siap untuk terus bekerja sama dengan komunitas internasional untuk berkontribusi pada pemulihan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah dan kawasan Teluk secepatnya,” tambahnya.

Di sisi lain, dinamika konflik AS-Iran terus mengalami perkembangan. Pada 28 Februari, AS dan Israel dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk wilayah Teheran, yang menimbulkan kerusakan serta korban sipil.

Iran kemudian membalas dengan serangan terhadap wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan.

Situasi semakin memanas sebelum akhirnya muncul upaya negosiasi. Pada 11 April 2026, Iran dan AS dikabarkan memulai pembicaraan di Islamabad setelah adanya klaim kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu yang sebelumnya diumumkan oleh Presiden Donald Trump.

Namun, Wakil Presiden AS JD Vance menyebut bahwa perundingan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan.

“Dia (Trump) ingin membuat kesepakatan besar dan pada dasarnya apa yang dia tawarkan kepada Iran sangat sederhana. Dia mengatakan bahwa ‘jika Iran bersedia bertindak seperti negara normal, maka kami bersedia memperlakukan Iran secara ekonomi seperti negara normal’. Trump tidak menginginkan kesepakatan kecil,” ujar Vance.

Tak lama setelah kegagalan negosiasi, ketegangan kembali meningkat, termasuk rencana blokade Selat Hormuz oleh AS yang memicu kekhawatiran global. Meski demikian, pembicaraan lanjutan antara Washington dan Teheran dikabarkan masih mungkin dilakukan dalam waktu dekat dengan keterlibatan mediator internasional.

China sendiri menegaskan kembali posisinya untuk terus mendorong solusi damai dan menghindari eskalasi lebih lanjut di kawasan Timur Tengah.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru