Selasa, 29 September 2026

Beda Emosi dan Stres, Penjelasan Psikolog Ini Bikin Kita Lebih Paham Diri Sendiri


 Beda Emosi dan Stres, Penjelasan Psikolog Ini Bikin Kita Lebih Paham Diri Sendiri Ilustrasi kesehatan mental. (ANTARA/HO - Human Care Consulting (HCC))

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Banyak orang masih menganggap emosi dan stres sebagai hal yang sama. Padahal, keduanya adalah kondisi psikologis yang berbeda, meski saling berkaitan.

Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Teresa Indira Andani Rabu (15/4/2026), menjelaskan bahwa stres adalah kondisi ketika seseorang merasa tertekan dan kewalahan menghadapi situasi hidup.

Menurut Teresa, stres muncul saat seseorang menilai tuntutan yang dihadapi lebih besar dibandingkan kemampuan dirinya untuk mengatasinya.

“Stres itu terjadi ketika seseorang merasa terbebani dan kewalahan menghadapi situasi yang ada di depannya,” ujarnya.

Berbeda dengan rasa bosan atau suntuk yang bisa hilang dengan hiburan atau istirahat, stres cenderung bertahan lebih lama dan tidak mudah reda hanya dengan distraksi sederhana.

Menariknya, stres juga bersifat subjektif. Situasi yang terasa biasa bagi seseorang, bisa menjadi tekanan besar bagi orang lain.

Sementara itu, emosi adalah respons perasaan yang lebih spesifik, seperti sedih, marah, atau bahagia. Emosi biasanya muncul sebagai reaksi langsung terhadap suatu peristiwa.

Sebagai contoh, seseorang yang mengalami putus cinta umumnya akan merasakan kesedihan. Ini adalah bentuk emosi yang wajar sebagai respons atas kehilangan.

Namun, kondisi bisa berubah menjadi stres ketika perasaan tersebut berkembang menjadi beban yang lebih berat. Misalnya, saat seseorang mulai merasa tidak mampu menjalani aktivitas sehari-hari, kehilangan harapan, atau merasa sendirian tanpa dukungan.

“Jadi sederhananya, sedih adalah perasaannya, sedangkan stres adalah kondisi ketika seseorang merasa terbebani dan kewalahan menghadapi situasi tersebut,” jelas Teresa.

Selain memahami perbedaannya, penting juga untuk tahu bagaimana bersikap ketika ada orang terdekat yang sedang mengalami stres.

Teresa menekankan bahwa kehadiran dan empati jauh lebih berarti dibandingkan sekadar memberi solusi instan.

Hindari kalimat yang terkesan meremehkan seperti “jangan dipikirkan” atau “santai saja”, karena bagi orang yang sedang stres, hal tersebut tidak mudah dilakukan.

Sebaliknya, cobalah untuk hadir sebagai pendengar yang baik tanpa menghakimi.

“Kita bisa mulai dengan hadir dan mendengarkan tanpa menghakimi. Misalnya dengan mengatakan ‘Kelihatannya lagi banyak ya yang dipikirin’ atau ‘Aku di sini kalau kamu mau cerita’. Kalimat sederhana seperti ini seringkali sudah sangat membantu,” ungkapnya.

Dengan memahami perbedaan emosi dan stres, kita bisa lebih bijak dalam mengenali kondisi diri sendiri maupun orang lain. Pada akhirnya, hal ini membantu kita menjaga kesehatan mental dengan lebih baik.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lifestyle Terbaru