Loading
Arsip foto - Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Nikolaus Joaquin (kanan) dan Raymond Indra (kiri) bereaksi usai kalah dari lawannya ganda putra Malaysia Goh Sze Fei dan Nur Izzuddin pada babak final Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (25/1/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/YU
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Perjalanan ganda putra Indonesia Raymond Indra/Nikolaus Joaquin harus terhenti di perempat final Orleans Masters 2026. Namun di balik kekalahan tersebut, ada pelajaran penting yang mereka soroti: fokus di momen krusial pertandingan.
Bertanding di Palais des Sports, Orleans, Prancis, Jumat, Raymond/Joaquin harus mengakui keunggulan pasangan Denmark Christian Faust Kjær/Rasmus Kjæer dalam laga sengit tiga gim. Duel berlangsung ketat sebelum akhirnya pasangan Indonesia kalah dengan skor 18-21, 21-12, dan 14-21.
Kekalahan ini bukan sekadar soal teknis permainan. Joaquin menilai ada faktor mental yang menjadi penentu hasil akhir.
“Kontrol emosi masih jadi PR besar kami. Tur Eropa dengan tiga turnamen beruntun benar-benar menguras fokus. Ini yang harus kami perkuat,” ujarnya seperti dikutip dari PBSI.
Hal senada diungkapkan Raymond. Ia menilai momen awal gim ketiga menjadi titik balik yang menentukan kekalahan mereka.
“Kami terlalu terburu-buru di awal gim ketiga dan tidak setenang di gim kedua. Ini jadi evaluasi penting, terutama bagaimana menjaga fokus saat rubber game,” kata Raymond dikutip Antara.
Padahal, pasangan yang merupakan unggulan ketiga ini sempat menunjukkan performa menjanjikan. Mereka bahkan mampu bangkit di gim kedua dengan permainan dominan. Namun, konsistensi menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi.
Selain faktor mental, Raymond juga menyoroti beratnya menjalani tur Eropa yang padat. Dalam waktu singkat, mereka harus berpindah dari satu turnamen ke turnamen lain—mulai dari All England, Swiss Open, hingga Orleans Masters.
“Kami harus cepat beradaptasi, terutama dengan kondisi lapangan dan shuttlecock yang berbeda di tiap turnamen. Di Orleans ini, kami belum bisa menyesuaikan dengan optimal,” jelasnya.
Kekalahan ini sekaligus memastikan Indonesia tanpa gelar di sektor ganda putra Orleans Masters 2026. Meski demikian, Raymond/Joaquin membawa pulang catatan evaluasi penting—bahwa di level kompetisi tinggi, ketenangan dan fokus di momen krusial bisa menjadi pembeda utama antara menang dan kalah.