Selasa, 29 September 2026

BI Ungkap Dampak Perang AS–Iran: Pasar Keuangan Global Terguncang, Modal Lari ke Negara Maju


 BI Ungkap Dampak Perang AS–Iran: Pasar Keuangan Global Terguncang, Modal Lari ke Negara Maju Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti (tengah) dalam agenda Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin (13/4/2026). ANTARA/ (Muhammad Baqir Idrus Alatas)

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan. Meski secara langsung tidak menyentuh pusat keuangan dunia, dampaknya justru terasa luas di pasar finansial global.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa efek terbesar dari konflik ini bukan berasal dari dampak langsung, melainkan dari efek tidak langsung yang merambat ke berbagai sektor keuangan dunia.

“Secara langsung, Iran dan Israel bukan pusat keuangan global. Jadi dampaknya terbatas. Namun, efek tidak langsungnya justru sangat besar,” ujar Destry dalam Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin (13/4/2026).

Efek Domino dari Keterlibatan AS

Menurut Destry, keterlibatan Amerika Serikat menjadi faktor kunci yang memperbesar dampak konflik ini. Sebagai pusat keuangan global, setiap ketegangan yang melibatkan AS akan memicu reaksi berantai di pasar internasional.

Ditambah lagi, posisi strategis Iran di kawasan Timur Tengah memperbesar ketidakpastian. Kondisi ini membuat pelaku pasar global semakin waspada terhadap risiko.

Investor Beralih ke Aset Aman

Ketidakpastian global mendorong investor mengambil langkah defensif. Fenomena yang dikenal sebagai risk-off ini membuat investor menghindari aset berisiko dan beralih ke instrumen yang lebih aman (safe haven).

Akibatnya, aliran modal global pun bergeser. Dana investasi cenderung mengalir kembali ke negara maju seperti Amerika Serikat.

Hal ini tercermin dari:

  • Penguatan indeks dolar AS (DXY)
  • Kenaikan imbal hasil obligasi AS (US Treasury) di kisaran 4,5–4,6 persen
  • Tekanan bagi Negara Berkembang, Termasuk Indonesia

Sebaliknya, negara berkembang mulai merasakan tekanan. Aliran modal ke emerging markets mengalami penurunan, termasuk Indonesia.

Meski sempat terjadi aliran dana masuk ke beberapa instrumen domestik seperti:

  • Surat Berharga Negara (SBN)
  • Pasar saham
  • Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI)

Namun secara keseluruhan, Indonesia masih mencatat arus modal keluar (capital outflow) sekitar Rp21 triliun.

Destry menegaskan, kondisi ini menunjukkan bahwa ketidakpastian global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar.

“Risiko global meningkat, DXY naik, yield US Treasury juga naik, dan aliran modal ke emerging markets menurun. Ini memberi tekanan pada nilai tukar berbagai mata uang,” jelasnya dikutip Antara.

Apa Artinya bagi Indonesia?

Situasi ini menjadi pengingat bahwa ekonomi global sangat terhubung. Konflik geopolitik di satu wilayah bisa memicu efek berantai ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Bagi investor dan pelaku pasar, kondisi ini menuntut kewaspadaan lebih tinggi serta strategi yang adaptif dalam menghadapi dinamika global yang terus berubah.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru