Jumat, 25 September 2026

Uang Beredar RI Tembus Rp10.448 Triliun pada Agustus 2026, Kredit Jadi Penggerak Utama


 Uang Beredar RI Tembus Rp10.448 Triliun pada Agustus 2026, Kredit Jadi Penggerak Utama Arsip foto Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran uang. (Antaranews)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Jumlah uang beredar dalam arti luas atau M2 di Indonesia mencapai Rp10.448,1 triliun pada Agustus 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian tersebut tumbuh 8,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan itu memang sedikit melambat dibandingkan Juli 2026 yang berada di level 8,3 persen secara tahunan (year on year/yoy). Meski demikian, BI menilai perkembangan likuiditas perekonomian masih menunjukkan pertumbuhan positif.

Data tersebut disampaikan BI pada Kamis (24/9/2026) melalui laporan perkembangan uang beredar Agustus 2026. Menurut BI, pertumbuhan M2 terutama ditopang oleh peningkatan uang beredar sempit atau M1 dan uang kuasi.

M1 tercatat tumbuh 9,0 persen yoy, sedangkan uang kuasi meningkat 6,5 persen yoy.

Yang menarik, pertumbuhan M2 pada periode tersebut juga berjalan beriringan dengan meningkatnya penyaluran kredit. BI mencatat penyaluran kredit yang menjadi salah satu faktor utama perkembangan M2 tumbuh 13,3 persen yoy pada Agustus 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 13,0 persen pada Juli.

Kredit Jadi Salah Satu Penggerak Likuiditas

Pertumbuhan kredit menjadi salah satu indikator penting dalam melihat pergerakan uang beredar. Ketika penyaluran pinjaman meningkat, aktivitas intermediasi perbankan ikut bergerak dan turut memengaruhi likuiditas perekonomian.

Dalam statistik M2, kredit yang diperhitungkan BI merupakan kredit dalam bentuk pinjaman atau loans. Perhitungan tersebut tidak mencakup instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga, tagihan akseptasi, dan tagihan repo.

Kredit dari kantor bank umum yang berkedudukan di luar negeri juga tidak termasuk dalam cakupan tersebut. Demikian pula kredit yang disalurkan kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk.

Secara terpisah, BI pada perkembangan perbankan Agustus juga mencatat kredit perbankan secara keseluruhan tumbuh 13,65 persen yoy, naik dari 13,58 persen pada Juli. Berdasarkan penggunaannya, pertumbuhan tersebut antara lain berasal dari kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi.

Perbedaan angka 13,3 persen dan 13,65 persen tersebut berkaitan dengan cakupan statistik yang digunakan. Karena itu, keduanya tidak dapat dibaca sebagai angka yang sama.

M0 Juga Masih Tumbuh Tinggi

Selain M2, BI mencatat perkembangan uang primer atau M0 adjusted yang juga menunjukkan pertumbuhan cukup tinggi.

Pada Agustus 2026, M0 adjusted mencapai Rp2.281,5 triliun, tumbuh 16,3 persen yoy. Namun, angka pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan Juli yang mencapai 17,1 persen.

BI menjelaskan, perkembangan M0 adjusted tersebut antara lain dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di BI adjusted sebesar 19,0 persen yoy dan uang kartal yang diedarkan sebesar 12,9 persen yoy.

Perhitungan M0 adjusted sendiri telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas sebagai bagian dari pengendalian moneter.

Apa Artinya bagi Perekonomian?

Pertumbuhan M2 memberikan gambaran mengenai perkembangan likuiditas dalam perekonomian. Sementara itu, meningkatnya penyaluran kredit menunjukkan aktivitas intermediasi perbankan yang masih berjalan.

Di sisi lain, pertumbuhan M2 pada Agustus yang sedikit lebih rendah dibandingkan Juli menunjukkan bahwa laju pertumbuhan likuiditas belum sepenuhnya meningkat dari bulan sebelumnya.

Dengan M2 yang mencapai lebih dari Rp10.448 triliun dan kredit yang terus tumbuh, perkembangan likuiditas serta intermediasi perbankan akan tetap menjadi salah satu indikator penting untuk melihat dinamika perekonomian Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.

BI sendiri terus menjaga kecukupan likuiditas melalui kebijakan moneter dan makroprudensial. Dalam laporan kebijakan moneternya, bank sentral menyebut kebijakan likuiditas diarahkan antara lain untuk mendukung pertumbuhan kredit sekaligus menjaga stabilitas perekonomian.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru