Pekerja melakukan bongkar muat barang di PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas), Jakarta, Rabu (29/4/2026). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/YU
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kabar baik datang dari sektor perdagangan Indonesia. Surplus neraca perdagangan pada Maret 2026 melonjak signifikan dan menjadi sinyal positif bagi ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global.
Bank Indonesia menilai capaian surplus sebesar 3,32 miliar dolar AS ini menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas eksternal Indonesia. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan Februari 2026 yang hanya mencapai 1,27 miliar dolar AS.
Data resmi yang dirilis Badan Pusat Statistik pada 4 Mei 2026 memperkuat optimisme tersebut. Kinerja perdagangan Indonesia menunjukkan tren membaik, terutama ditopang oleh lonjakan ekspor nonmigas.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa pihaknya akan terus memperkuat sinergi kebijakan bersama pemerintah dan berbagai otoritas terkait.
Menurutnya, langkah ini penting untuk menjaga ketahanan eksternal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Baca juga:
BI Pastikan Cadangan Devisa Indonesia Aman Meski Menurun, Masih di Atas Standar InternasionalEkspor Nonmigas Jadi Motor Utama
Peningkatan surplus perdagangan terutama berasal dari sektor nonmigas. Pada Maret 2026, surplus nonmigas tercatat mencapai 5,21 miliar dolar AS, didorong oleh nilai ekspor yang menembus 21,25 miliar dolar AS.
Kinerja ini tidak lepas dari kuatnya permintaan global terhadap komoditas unggulan Indonesia. Produk berbasis sumber daya alam seperti logam mulia, perhiasan, serta bahan bakar mineral menjadi penyumbang utama. Di sisi lain, sektor manufaktur juga menunjukkan daya saing, terutama dari produk besi dan baja.
Negara-negara seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih menjadi pasar utama ekspor Indonesia, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai perdagangan global dikutip Antara.
Defisit Migas Masih Jadi Tantangan
Meski secara keseluruhan surplus meningkat, sektor migas masih mencatatkan defisit. Pada Maret 2026, defisit neraca perdagangan migas mencapai 1,89 miliar dolar AS.
Kondisi ini terjadi karena lonjakan impor migas yang lebih tinggi dibandingkan ekspornya. Artinya, ketergantungan terhadap energi impor masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu terus diatasi.
Prospek ke Depan
Dengan tren surplus yang menguat, Indonesia dinilai memiliki modal yang cukup kuat untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Sinergi kebijakan antara otoritas moneter dan pemerintah diharapkan mampu menjaga momentum positif ini.
Jika kinerja ekspor tetap terjaga dan defisit migas dapat ditekan, bukan tidak mungkin ketahanan ekonomi Indonesia akan semakin kokoh dalam jangka panjang.