Gereja Katolik dan Masa Depan PMKRI: Menjaga Integritas di Tengah Disrupsi Zaman


 Gereja Katolik dan Masa Depan PMKRI: Menjaga Integritas di Tengah Disrupsi Zaman Ferdinandus Wali Ate, Calon Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI Periode 2026–2028 dan Presidium Hubungan Luar Negeri PP PMKRI Periode 2024–2026. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh:  Ferdinandus Wali Ate

Calon Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI Periode 2026–2028

Presidium Hubungan Luar Negeri PP PMKRI Periode 2024–2026

INDONESIA sedang menghadapi ironi besar. Di satu sisi, kemajuan teknologi berkembang begitu pesat. Artificial Intelligence (AI), transformasi digital, dan derasnya arus informasi telah membuka peluang luar biasa bagi kehidupan manusia. Namun di sisi lain, kita justru menyaksikan kemerosotan etika yang semakin nyata.

Hoaks menyebar lebih cepat daripada fakta. Ujaran kebencian lebih mudah viral dibandingkan dialog yang sehat. Politik uang masih menjadi jalan pintas menuju kekuasaan, sementara korupsi terus mengikis kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Fakta ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan kemajuan moral.

Dalam situasi seperti ini, Gereja Katolik dipanggil untuk kembali menegaskan makna kehadirannya. Gereja tidak cukup hanya menjadi ruang ibadah yang ramai setiap Minggu, tetapi harus menjadi tempat lahirnya manusia yang utuh—beriman, berakal budi, dan berani menghadirkan kasih di tengah persoalan dunia.

Di titik inilah Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) menemukan kembali relevansi sejarahnya.

Sejak awal berdiri, PMKRI bukan sekadar organisasi mahasiswa. Ia merupakan ruang kaderisasi yang memadukan iman, ilmu pengetahuan, dan pengabdian kepada bangsa. Tujuan utamanya bukan mencetak pemburu jabatan, melainkan melahirkan pemimpin yang berkarakter.

Perbedaannya sangat jelas. Politisi sering berpikir tentang pemilu berikutnya, sedangkan negarawan memikirkan generasi berikutnya.

Karena itu, arah gerak PMKRI tidak boleh hanya berkutat pada dinamika organisasi atau kontestasi kepemimpinan internal. PMKRI harus kembali menjadi laboratorium kepemimpinan kaum muda yang berpijak pada nilai-nilai Gereja sekaligus mampu menjawab tantangan zaman.

Gereja sebagai Tempat Membentuk Pemimpin

Langkah pertama adalah mengembalikan Gereja sebagai rumah pembinaan iman, karakter, dan intelektualitas.

Gereja bukan hanya institusi religius, tetapi komunitas yang membentuk manusia agar mampu menyatukan iman dan akal budi. Santo Yohanes Paulus II pernah mengingatkan bahwa iman dan akal budi adalah dua sayap yang mengangkat manusia menuju kebenaran.

Tanpa iman, kecerdasan kehilangan kompas moral. Sebaliknya, tanpa intelektualitas, iman berpotensi berubah menjadi fanatisme yang miskin refleksi.Karena itu, kader PMKRI tidak cukup hanya menguasai doktrin sosial Gereja atau hafal berbagai ensiklik kepausan. Nilai-nilai tersebut harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam kehidupan masyarakat.

Gereja yang hidup bukanlah Gereja yang sekadar berbicara tentang kasih, melainkan Gereja yang menghadirkan kasih melalui tindakan.

Kasih dalam iman Kristiani bukan sekadar simpati, melainkan keberanian untuk melayani, berbagi, dan hadir bagi mereka yang tersisih.

Sebagaimana diingatkan Paus Fransiskus, Gereja dipanggil menjadi "rumah sakit lapangan" yang merawat luka masyarakat, bukan benteng eksklusif yang menjauh dari persoalan dunia.

Karena itu, pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, advokasi bagi kelompok rentan, pendampingan anak-anak, kepedulian terhadap kaum miskin, hingga perjuangan menjaga lingkungan hidup bukanlah aktivitas tambahan. Semuanya merupakan wujud nyata iman yang bekerja melalui kasih.

AI Harus Dikendalikan Nilai-Nilai Kemanusiaan

Tantangan zaman kini tidak hanya datang dari dunia politik atau ekonomi, tetapi juga dari revolusi digital.

Kehadiran Artificial Intelligence telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berpikir, bahkan mengambil keputusan.

AI dapat mempercepat kemajuan pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, hingga tata kelola pemerintahan. Namun teknologi yang sama juga bisa menjadi alat manipulasi informasi, pengawasan yang tidak etis, bahkan memperbesar ketimpangan apabila digunakan tanpa tanggung jawab.

Karena itu, kader PMKRI tidak boleh anti terhadap teknologi, tetapi juga tidak boleh memujanya.

Teknologi harus ditempatkan sebagai alat, bukan tujuan.

Nilai kemanusiaan harus tetap menjadi pusat dari setiap inovasi.

Pemanfaatan AI yang bertanggung jawab berarti memastikan seluruh perkembangan teknologi diarahkan bagi kesejahteraan bersama (bonum commune), bukan hanya demi keuntungan ekonomi ataupun kepentingan politik sesaat.

Kecerdasan buatan boleh berkembang semakin canggih, tetapi kebijaksanaan manusia tidak boleh tertinggal.

Literasi Digital adalah Panggilan Moral

Di era digital, ruang publik telah berubah menjadi arena pertarungan narasi.

Kebenaran sering kalah oleh sensasi.

Fakta dikalahkan oleh algoritma.

Emosi lebih cepat menyebar dibandingkan argumentasi yang rasional.

Karena itu, menjadi kader PMKRI hari ini berarti juga menjadi pelopor literasi digital.

Literasi digital tidak berhenti pada kemampuan menggunakan teknologi. Lebih dari itu, ia merupakan kemampuan berpikir kritis, memverifikasi informasi, membangun budaya dialog, serta berani melawan hoaks, fitnah, ujaran kebencian, dan disinformasi.

Dalam tradisi Kristiani, kebenaran bukan ditentukan oleh suara mayoritas, tetapi terus dicari melalui kerendahan hati.

Melawan disinformasi, dengan demikian, bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan panggilan moral.

Menolak Politik Uang dan Korupsi

Demokrasi Indonesia juga menghadapi ujian yang tidak ringan.

Politik uang masih menjadi penyakit kronis yang merusak kualitas kepemimpinan nasional.

Ketika suara rakyat dapat dibeli, demokrasi kehilangan maknanya.

Pemilu berubah dari pertarungan gagasan menjadi transaksi kepentingan.

Money politics bukan sekadar persoalan hukum.

Ia adalah persoalan moral.

Ketika jabatan diperoleh melalui transaksi, kekuasaan dipandang sebagai investasi yang harus dikembalikan, sering kali melalui praktik korupsi.

Karena itu, PMKRI harus mengambil posisi yang tegas.

Tidak boleh ada toleransi terhadap politik uang, baik dalam kehidupan organisasi maupun dalam ruang politik nasional.

Integritas bukan slogan.

Integritas adalah disiplin moral yang tetap dijaga, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Korupsi pun bukan sekadar pencurian uang negara.

Korupsi adalah pengkhianatan terhadap harapan rakyat. Ia merampas hak anak memperoleh pendidikan yang layak, mengurangi kualitas pelayanan kesehatan, memperburuk infrastruktur, dan memperlebar ketimpangan sosial.

Melawan korupsi berarti membela martabat manusia.

Merawat Bumi, Merawat Masa Depan

Ajaran sosial Gereja selalu menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan.

Kemajuan ekonomi yang mengorbankan kaum miskin bukanlah kemajuan.

Pembangunan yang merusak lingkungan juga bukan pembangunan.

Melalui ensiklik Laudato Si', Gereja mengingatkan bahwa krisis lingkungan sesungguhnya merupakan krisis moral.

Ketika manusia mengeksploitasi alam tanpa batas, pada saat yang sama ia sedang menghancurkan masa depannya sendiri.

Karena itu, keberpihakan terhadap lingkungan hidup merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan iman.

PMKRI harus berada di garis depan dalam memperjuangkan keadilan ekologis, membela masyarakat adat, melindungi sumber daya alam, serta memastikan pembangunan selalu berpihak kepada manusia dan keberlanjutan lingkungan.

Integritas Tetap Menjadi Fondasi

Pada akhirnya, seluruh gagasan ini bermuara pada satu nilai utama: integritas.

Integritas adalah kesatuan antara pikiran, perkataan, dan tindakan.

Dunia sebenarnya tidak kekurangan orang pintar.

Yang semakin langka adalah manusia yang dapat dipercaya.

Di tengah masyarakat yang semakin terpolarisasi, kader PMKRI juga harus menjadi teladan dalam membangun dialog.

Perbedaan bukan alasan untuk saling meniadakan.

Keberagaman justru merupakan kekayaan bangsa Indonesia.

Dialog bukan tanda kelemahan, melainkan wujud kedewasaan.

Filsuf Martin Buber pernah mengatakan bahwa manusia menjadi sungguh manusia ketika mampu berkata, "Aku dan Engkau," bukan "Aku melawan Engkau."

Melalui dialog, kita menyadari bahwa lawan bicara bukan musuh yang harus dikalahkan, melainkan sesama manusia yang memiliki martabat yang sama.

Karena itu, PMKRI masa depan harus melahirkan kader yang tidak hanya cerdas secara intelektual, matang secara spiritual, dan tangguh dalam organisasi, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk berdiri di pihak kebenaran, bahkan ketika harus berjalan sendirian.

Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang hanya pandai berbicara tentang perubahan.

Indonesia membutuhkan pribadi-pribadi yang bersedia menjadi perubahan itu sendiri.

Gereja telah menyediakan fondasi imannya. Bangsa telah menyediakan ruang pengabdian.

Kini, sejarah menunggu apakah PMKRI tetap bersedia menjadi sekolah integritas bagi Indonesia atau justru larut dalam pragmatisme zaman.

Pilihan itu akan menentukan bukan hanya masa depan organisasi, tetapi juga kualitas kepemimpinan Indonesia pada dekade-dekade mendatang.

Sebab sejarah selalu menunjukkan bahwa peradaban besar tidak dibangun oleh mereka yang mengejar kekuasaan semata, melainkan oleh orang-orang yang setia pada nilai, meski jalan yang ditempuh terasa sunyi.

Di sanalah PMKRI menemukan panggilannya: menjadi garam yang memberi rasa, terang yang memberi arah, dan hati nurani yang menjaga Indonesia agar tidak kehilangan jiwanya.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Suara Kita Terbaru