Loading
Karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (5/5/2026). (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/bar)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah Indonesia menyiapkan langkah baru untuk memperkuat nilai tukar rupiah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat. Salah satu strategi yang tengah dipersiapkan adalah penerbitan Panda Bonds di pasar keuangan China.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, instrumen pembiayaan tersebut dipilih karena menawarkan tingkat bunga yang lebih kompetitif dibandingkan sumber pendanaan berbasis dolar AS.
Menurut Purbaya, diversifikasi pembiayaan internasional menjadi penting agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu mata uang dalam pengelolaan utang dan stabilitas ekonomi nasional.
“Untuk memperkuat nilai tukar, kami juga akan menerbitkan Panda Bonds di China dengan bunga yang lebih rendah sehingga kita tidak tergantung terlalu banyak ke dolar lagi,” ujar Purbaya dalam keterangan resmi BPMI Sekretariat Presiden di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Penerbitan Panda Bonds sendiri merupakan obligasi yang diterbitkan di pasar China menggunakan mata uang yuan. Langkah ini dinilai dapat membuka akses pembiayaan baru sekaligus memperluas jaringan investor internasional Indonesia.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global yang masih penuh tekanan. Rencana itu juga dibahas dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Selain membahas penguatan rupiah, pemerintah juga menyoroti perkembangan pertumbuhan ekonomi nasional yang dinilai mulai menunjukkan percepatan positif.
Baca juga:
BSI Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,28% di 2026, Konsumsi & Investasi Jadi Motor UtamaPurbaya menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia kini mencapai 5,61 persen, naik dibandingkan periode sebelumnya yang berada di level 5,39 persen. Angka tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa ekonomi nasional mulai memasuki fase ekspansi yang lebih kuat.
“Ekonomi kita sedang mengalami akselerasi,” kata Purbaya.
Ia menilai tren pertumbuhan tersebut menunjukkan berbagai kebijakan pemerintah mulai memberikan dampak terhadap pemulihan dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Untuk menjaga momentum pada triwulan kedua 2026, pemerintah juga menyiapkan stimulus tambahan yang rencananya mulai berjalan pada awal Juni mendatang.
Stimulus tersebut diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat, memperkuat likuiditas, dan mendorong aktivitas ekonomi tetap tumbuh di tengah ketidakpastian global.
Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia guna memastikan kondisi pasar keuangan dan likuiditas tetap stabil.
Dengan kombinasi diversifikasi pembiayaan, penguatan rupiah, serta stimulus ekonomi tambahan, pemerintah berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat terus terjaga sepanjang 2026.