Selasa, 29 September 2026

Rupiah Tertekan Usai Serangan Baru AS ke Iran, Kekhawatiran Pasar Global Meningkat


 Rupiah Tertekan Usai Serangan Baru AS ke Iran, Kekhawatiran Pasar Global Meningkat Rupiah ditutup melemah ke Rp17.796 per dolar AS setelah serangan baru Amerika Serikat ke Iran. (Net)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 52 poin atau sekitar 0,29 persen menjadi Rp17.796 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.744 per dolar AS.

Pelemahan rupiah kali ini dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik global setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap sejumlah target di Iran bagian selatan.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan, aksi militer terbaru tersebut membuat pelaku pasar kembali mencari aset aman seperti dolar AS. Kondisi ini kemudian memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Menurut Ibrahim, serangan AS menyasar lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau milik Iran. Pemerintah AS menyebut operasi tersebut dilakukan sebagai langkah pertahanan diri, meski sebelumnya kedua negara dikabarkan masih berada dalam fase gencatan senjata.

Situasi ini dinilai dapat memperumit proses negosiasi damai antara Washington dan Teheran. Apalagi, Iran sebelumnya telah beberapa kali memperingatkan AS agar tidak melakukan serangan lanjutan.

Padahal sebelumnya kedua negara disebut telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik sekaligus membuka kembali jalur perdagangan penting di Selat Hormuz.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahkan sempat mengklaim bahwa Iran bersedia menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya sebagai bagian dari proses negosiasi. Namun, pihak Iran membantah kabar tersebut.

Ibrahim menilai pelemahan rupiah bukan hanya berdampak pada pasar keuangan, tetapi juga mulai dirasakan sektor industri dalam negeri. Industri yang masih bergantung pada bahan baku impor berpotensi menghadapi kenaikan biaya produksi.

Selain itu, tekanan juga dirasakan perusahaan yang berorientasi ekspor karena ketidakpastian global membuat aktivitas perdagangan internasional melambat.

“Tekanan terhadap industri bukan hanya berasal dari pelemahan rupiah, tetapi juga akibat konflik geopolitik global yang mendorong kenaikan harga BBM industri non subsidi. Ini membuat biaya operasional perusahaan semakin berat,” ujar Ibrahim dikutip Antara.

Kondisi tersebut dikhawatirkan memperbesar risiko efisiensi perusahaan hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).

Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah pekerja yang terdampak PHK sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai 15.425 orang. Sejumlah perusahaan bahkan mulai mengurangi aktivitas usaha hingga menghentikan operasional akibat tekanan biaya produksi yang terus meningkat.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama juga tercatat melemah ke posisi Rp17.789 per dolar AS, dibandingkan sebelumnya Rp17.743 per dolar AS.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru