Rupiah Diprediksi Melemah di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah, Ini Penyebabnya


 Rupiah Diprediksi Melemah di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah, Ini Penyebabnya Rupiah diprediksi melemah terhadap dolar AS akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. (Kontan)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Pemicu utamanya adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperkuat posisi dolar AS sebagai aset aman.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai eskalasi hubungan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor eksternal yang paling memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Menurutnya, kenaikan harga minyak akibat konflik geopolitik biasanya meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar global. Kondisi tersebut mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS, sehingga memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang.

Meski demikian, Lukman melihat pelemahan rupiah berpotensi terbatas karena sentimen domestik mulai menunjukkan perbaikan.

Salah satu faktor penopangnya adalah hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang memutuskan mempertahankan suku bunga acuan. Selain itu, BI juga meluncurkan sejumlah insentif baru untuk memperkuat stabilitas nilai tukar.

Beberapa kebijakan tersebut antara lain menurunkan biaya transaksi lindung nilai (hedging) valuta asing bersama Bank Indonesia serta mendorong penggunaan mata uang selain dolar AS dalam transaksi tertentu. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik pasar keuangan domestik sekaligus membantu menjaga stabilitas rupiah.

Pada pembukaan perdagangan Kamis pagi, rupiah justru sempat menguat tipis sebesar 3 poin atau sekitar 0,02 persen ke level Rp17.914 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.917 per dolar AS.

BI Pilih Beri Insentif daripada Naikkan Suku Bunga

Alih-alih menaikkan BI-Rate pada Juli 2026, Bank Indonesia memilih memberikan insentif yang ditujukan untuk mendorong masuknya investasi portofolio asing.

Kebijakan tersebut meliputi kenaikan insentif premi swap jual lindung nilai dari 10 persen menjadi 12,5 persen. Selain itu, BI juga memperluas insentif untuk transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) jual lindung nilai hingga sebesar 15 persen.

Menurut Lukman, keputusan mempertahankan suku bunga cukup masuk akal karena tekanan dari dalam negeri mulai mereda, meskipun risiko eksternal masih meningkat.

Ia menilai apabila situasi geopolitik di Timur Tengah terus memburuk, bukan tidak mungkin Bank Indonesia akan mempertimbangkan kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya guna menjaga stabilitas nilai tukar dikutip Antara.

Situasi Timur Tengah Masih Menjadi Perhatian

Di sisi lain, perkembangan geopolitik masih menjadi perhatian utama pasar keuangan global. Berdasarkan laporan Sputnik, Amerika Serikat telah kembali mengerahkan pesawat tempur siluman F-35 dan pesawat tempur F-16 dari Eropa menuju kawasan Timur Tengah.

Dalam sepekan terakhir, Washington juga dilaporkan menambah pasukan operasi khusus serta skuadron pesawat tempur di kawasan tersebut. Bahkan, pesawat pengebom B-1 yang ditempatkan di Inggris disebut berada dalam status siaga untuk menghadapi kemungkinan operasi militer berskala besar.

Apabila eskalasi konflik terus meningkat, volatilitas pasar keuangan global diperkirakan masih akan tinggi. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh harga minyak dunia, tetapi juga oleh pergerakan mata uang, termasuk rupiah, yang tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik internasional.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru