Minggu, 27 September 2026

Rupiah Diprediksi Konsolidatif di Tengah Perkembangan Geopolitik Timur Tengah


 Rupiah Diprediksi Konsolidatif di Tengah Perkembangan Geopolitik Timur Tengah Ilustrasi Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat. (Antaranews)

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak konsolidatif pada perdagangan Rabu (12/8/2026). Pelaku pasar masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah sekaligus menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat.

Pada pembukaan perdagangan, rupiah melemah tipis 8 poin atau 0,04 persen ke level Rp17.869 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp17.861 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pergerakan rupiah masih akan cenderung terbatas karena sentimen global bergerak beragam.

“Rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif di tengah perkembangan geopolitik di Timteng yang masih memberikan sinyal beragam,” ujar Lukman kepada Antara di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Perkembangan Iran-AS Jadi Perhatian Pasar

Salah satu faktor yang menjadi perhatian investor adalah perkembangan hubungan Iran dan Amerika Serikat, khususnya terkait kebuntuan di Selat Hormuz.

Mengutip Anadolu, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyebut Iran dan AS disebut semakin mendekati kesepakatan, meskipun kedua negara masih mempertahankan sikap tegas dalam menghadapi persoalan yang telah berlangsung cukup lama.

Sementara itu, sumber Pemerintah Pakistan menyebut Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi akan membawa sejumlah usulan baru kepada para pemimpin Iran untuk membantu mengatasi kebuntuan tersebut.

Kondisi di Selat Hormuz menjadi perhatian dunia karena jalur tersebut memiliki peran penting bagi perdagangan dan perekonomian global.

Menurut Lukman, laporan dari Pakistan memberikan sinyal positif terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan.

“Laporan dari Pakistan mengindikasikan bahwa proses menuju kesepakatan damai kembali menunjukkan perkembangan positif, sementara Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka sebelum sejumlah persyaratan terpenuhi,” jelasnya.

Artinya, pasar masih menghadapi dua sentimen yang berlawanan. Harapan terhadap tercapainya kesepakatan dapat meredakan kekhawatiran investor, tetapi ketidakpastian terkait Selat Hormuz masih berpotensi menahan penguatan aset berisiko, termasuk rupiah.

Investor Menunggu Data Inflasi AS

Selain geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan pada Rabu malam waktu Indonesia.

Investor cenderung mengambil sikap wait and see sebelum data tersebut diumumkan. Pasalnya, angka inflasi AS dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Lukman memperkirakan inflasi utama maupun inflasi inti akan mengalami penurunan.

Inflasi tahunan (year on year/YoY) diperkirakan turun dari 2,6 persen menjadi 2,5 persen. Sementara inflasi inti YoY diperkirakan turun dari 3,5 persen menjadi 3,4 persen.

Jika data inflasi menunjukkan perlambatan, pasar dapat kembali memperhitungkan ruang bagi kebijakan moneter AS yang lebih longgar. Sebaliknya, inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat kembali memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Pasar Domestik Tunggu Pengumuman MSCI

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga masih mencermati rencana pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Menurut Lukman, keputusan MSCI masih menjadi tanda tanya dan berpotensi memengaruhi sentimen investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

“Pengumuman MSCI tentunya masih tanda tanya, namun salah satunya adalah tidak akan ada saham baru yang dimasukkan,” ujarnya.

Kombinasi sentimen global dan domestik tersebut membuat ruang pergerakan rupiah diperkirakan masih terbatas.

Lukman memproyeksikan rupiah pada perdagangan hari ini bergerak dalam kisaran Rp17.750 hingga Rp17.850 per dolar AS.

Dengan demikian, arah rupiah dalam jangka pendek masih akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik Timur Tengah, data inflasi AS, serta keputusan MSCI. Investor pun diperkirakan tetap berhati-hati sembari menunggu kepastian dari sejumlah katalis tersebut.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru