Senin, 28 September 2026

Energi Bersih Melesat, Al Gore Sebut Dunia Berada di Persimpangan Krisis Iklim


 Energi Bersih Melesat, Al Gore Sebut Dunia Berada di Persimpangan Krisis Iklim Al Gore menilai 2026 berpeluang menjadi titik balik perjuangan iklim. (Ilustrasi AI)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore melihat peluang baru dalam perjuangan dunia menghadapi perubahan iklim. Menurutnya, 2026 berpotensi dikenang sebagai salah satu titik balik penting menuju sistem energi yang lebih bersih.

Namun, optimisme itu datang bersamaan dengan peringatan. Gore menilai bahaya perubahan iklim justru semakin nyata, sementara peralihan dari batu bara, minyak, dan gas menuju energi bersih belum berlangsung cukup cepat.

Dalam wawancara dengan Associated Press (AP) saat Climate Week NYC 2026 di New York, Gore mengatakan dunia mungkin sedang mendekati puncak penggunaan bahan bakar fosil.

“Ketika kita berada dalam bahaya besar, tetap ada kemungkinan bahwa 2026 akan dikenang dalam sejarah sebagai awal dari titik balik positif,” ujar Gore.

Climate Week NYC berlangsung pada 20–27 September 2026 dan menjadi salah satu forum global yang mempertemukan pemimpin pemerintahan, dunia usaha, ilmuwan, investor, dan masyarakat sipil untuk membahas perubahan iklim dan transisi energi.

Energi Bersih Tumbuh Semakin Cepat

Optimisme Gore tidak muncul tanpa alasan. Perkembangan energi terbarukan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan besar dalam pola investasi dan penggunaan energi.

Data Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menunjukkan investasi global untuk energi bersih pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar US$2,2 triliun. Angka itu sekitar dua kali lipat dibanding investasi untuk minyak, gas alam, dan batu bara yang mencapai sekitar US$1,1 triliun.

Surya menjadi salah satu pendorong utama perubahan tersebut. Di Afrika, misalnya, instalasi tenaga surya berkembang sangat cepat. Data yang dikutip Forbes Africa dari Ember memperkirakan sekitar 100.000 panel surya dipasang setiap hari di benua tersebut sepanjang 2026.

Amerika Serikat juga mengalami pertumbuhan kapasitas energi bersih. Data Center for Sustainable Systems University of Michigan mencatat energi surya dan penyimpanan energi menyumbang sekitar 91 persen kapasitas pembangkit baru di AS pada kuartal pertama 2026.

Perubahan juga terlihat pada sektor transportasi.

IEA memperkirakan penjualan mobil listrik secara global pada 2026 dapat mencapai sekitar 23 juta unit atau hampir 30 persen dari seluruh penjualan mobil baru di dunia. Pada 2025, mobil listrik sudah mencapai seperempat penjualan mobil baru secara global.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa energi bersih bukan lagi sekadar teknologi masa depan. Investasi dan adopsinya sudah menjadi bagian penting dari perubahan sistem energi dunia.

Tetapi Bahan Bakar Fosil Belum Benar-benar Ditinggalkan

Di sinilah letak kekhawatiran para ilmuwan.

Pertumbuhan energi terbarukan belum otomatis berarti dunia telah berhasil mengurangi ketergantungannya terhadap minyak, gas, dan batu bara.

Johan Rockström, Direktur Potsdam Institute for Climate Impact Research, mengatakan kepada AP bahwa kemajuan dalam teknologi energi bersih memang sangat besar. Namun, pertumbuhan tersebut sejauh ini banyak digunakan untuk memenuhi permintaan energi global yang juga terus meningkat.

Dengan kata lain, energi terbarukan berkembang pesat, tetapi konsumsi energi dunia juga bertambah.

Pandangan serupa disampaikan Bill Hare, CEO Climate Analytics. Ia melihat perkembangan teknologi bersih sebagai sesuatu yang menjanjikan, tetapi menilai kecepatannya masih menjadi persoalan.

Sementara itu, ilmuwan iklim dari University of Pennsylvania, Michael Mann, mengingatkan bahwa pesimisme dan rasa putus asa juga dapat menjadi hambatan dalam menghadapi perubahan iklim.

Risiko Iklim Semakin Terasa

Di tengah perkembangan teknologi energi bersih tersebut, dampak perubahan iklim terus muncul dalam berbagai bentuk.

Gelombang panas, banjir, kebakaran, pencairan gletser, serta berbagai kejadian cuaca ekstrem semakin menjadi perhatian para ilmuwan.

Salah satu contoh terbaru terjadi di kawasan Himalaya. Banjir dan keruntuhan gletser di wilayah Nepal dan Tibet pada akhir Agustus 2026 menewaskan lebih dari 1.300 orang dan menyebabkan ribuan orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Analisis World Weather Attribution yang diberitakan AP menyebut perubahan iklim turut meningkatkan kemungkinan terjadinya bencana tersebut. Pemanasan global menyebabkan penyusutan gletser dan pencairan permafrost yang dapat membuat lereng pegunungan menjadi semakin tidak stabil.

Kondisi tersebut memperlihatkan dilema yang sedang dihadapi dunia: teknologi untuk mengurangi emisi berkembang dengan cepat, tetapi kerusakan dan risiko akibat pemanasan global juga terus bertambah.

Perlombaan antara Energi Lama dan Energi Baru

Bagi Gore, situasi saat ini pada dasarnya merupakan perlombaan antara dua kekuatan.

Di satu sisi terdapat sistem energi lama yang masih bergantung pada bahan bakar fosil. Di sisi lain, energi surya, kendaraan listrik, penyimpanan energi, dan berbagai teknologi rendah emisi berkembang dengan cepat.

Perubahan ekonomi menjadi salah satu faktor penting dalam perlombaan tersebut. Ketika teknologi baru semakin murah dan mudah digunakan, konsumen dan perusahaan memiliki alasan ekonomi untuk beralih.

Gore membandingkannya dengan perkembangan telepon seluler yang secara perlahan menggeser penggunaan telepon rumah.

Data investasi global menunjukkan arah perubahan tersebut. IEA mencatat investasi pada sektor listrik—termasuk pembangkit, jaringan, dan penyimpanan—diperkirakan mencapai sekitar US$1,5 triliun pada 2025, sekitar 50 persen lebih tinggi dibanding investasi untuk membawa minyak, gas, dan batu bara ke pasar.

Namun, perubahan tersebut belum cukup untuk menyatakan bahwa transisi energi telah selesai.

Titik Balik Belum Berarti Kemenangan

Gore tetap berhati-hati. Menurutnya, dunia memang memiliki peluang untuk membalikkan arah krisis iklim, tetapi kesempatan itu tidak datang tanpa risiko.

Laporan dan analisis terbaru juga menunjukkan bahwa peningkatan energi terbarukan perlu berlangsung jauh lebih cepat untuk memenuhi target iklim global. Sebuah laporan yang dirilis pada Climate Week NYC 2026 menyebut laju pembangunan energi terbarukan saat ini masih perlu lebih dari dua kali lipat pada 2030 agar sejalan dengan sasaran iklim yang telah ditetapkan.

Karena itu, optimisme Gore bukan berarti menganggap persoalan perubahan iklim telah selesai. Justru sebaliknya, ia melihat adanya peluang yang semakin besar sekaligus kebutuhan untuk bergerak lebih cepat.

“Jawabannya ada di tangan kita,” kata Gore mengenai siapa yang akan memenangkan perlombaan antara energi lama dan energi baru dikutip dari The Independent.

Baginya, cerita mengenai perubahan iklim belum mencapai bab terakhir.

Pada akhirnya, pesan Gore bukan sekadar tentang seberapa cepat dunia dapat membangun panel surya atau menjual mobil listrik. Persoalannya adalah apakah perkembangan tersebut mampu mengejar laju pemanasan global dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dalam skala yang cukup besar.

Di tengah ancaman yang semakin nyata, dunia kini menghadapi dua fakta sekaligus: krisis iklim semakin serius, tetapi pilihan untuk membangun sistem energi yang lebih bersih juga semakin tersedia.

Bagi Gore, kesempatan itu masih ada. Dan menurutnya, pekerjaan untuk memanfaatkannya tidak boleh berhenti.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Green Economy Insight Terbaru