Senin, 28 September 2026

Rupiah di Rp17.879 per Dolar AS, Investor Waspadai Geopolitik Timur Tengah


 Rupiah di Rp17.879 per Dolar AS, Investor Waspadai Geopolitik Timur Tengah Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing Dolarasia Money Changer Cibubur, di Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis (13/8/2026). Rupiah turun 2 poin atau 0,01 persen ke level Rp17.879 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp17.877 per dolar AS.

Pergerakan rupiah masih dibayangi sentimen global, terutama meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut membuat pasar kembali mencermati perkembangan hubungan Iran dan Amerika Serikat, termasuk situasi di Selat Hormuz yang merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan, tekanan terhadap rupiah masih berasal dari ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah.

“Rupiah masih menghadapi tekanan dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, terutama perkembangan terkait Iran dan Selat Hormuz yang berpotensi mempengaruhi pasokan serta harga energi,” ucap Amru kepada ANTARA di Jakarta, Kamis (13/8/2026).

Iran Perketat Sikap soal Selat Hormuz

Situasi di Selat Hormuz menjadi salah satu perhatian utama pasar karena jalur tersebut memiliki peran penting dalam distribusi energi global.

Mengutip Anadolu, Iran menetapkan enam syarat yang harus dipenuhi Amerika Serikat agar Selat Hormuz dapat dibuka kembali.

Persyaratan tersebut antara lain mengakhiri ancaman terhadap pemimpin tertinggi Iran, menghentikan secara permanen aksi militer terhadap Iran dan sekutunya di kawasan, serta menarik seluruh kekuatan laut dan udara AS yang terlibat dalam blokade terhadap Iran.

Iran juga meminta kompensasi atas kerugian yang dialami selama konflik, pencabutan sanksi Amerika Serikat, serta pembebasan aset-aset Iran yang saat ini dibekukan.

Tak hanya itu, Iran tengah menyiapkan rancangan undang-undang yang akan melarang kapal militer maupun kapal komersial dari negara yang dianggap sebagai “musuh” memasuki Selat Hormuz tanpa persetujuan Teheran.

Perkembangan tersebut menjadi perhatian investor karena gangguan terhadap Selat Hormuz berpotensi berdampak pada pasokan dan harga energi dunia. Jika harga energi meningkat tajam, tekanan terhadap inflasi global dan kebijakan moneter negara-negara besar juga dapat kembali menguat.

Data Inflasi AS Jadi Perhatian Berikutnya

Selain geopolitik Timur Tengah, arah rupiah juga dipengaruhi perkembangan ekonomi Amerika Serikat.

Data indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS untuk Juli menunjukkan kenaikan 0,1 persen secara bulanan dan 3,4 persen secara tahunan. Angka tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar.

Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi yang cenderung berfluktuasi meningkat 0,2 persen secara bulanan dan 2,5 persen secara tahunan.

Meski demikian, tingkat inflasi tahunan, baik inflasi umum maupun inflasi inti, sedikit melandai dibandingkan Juni.

Data tersebut kemudian ikut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Pasar uang kini memperkirakan peluang The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan September semakin besar. Berdasarkan Fed Fund Futures, probabilitas suku bunga tetap berada di kisaran 3,5–3,75 persen mencapai sekitar 60 persen.

Angka tersebut meningkat dibandingkan pekan sebelumnya yang berada di atas 45 persen.

Rupiah Diperkirakan Masih Konsolidasi

Dalam jangka pendek, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan berlangsung terbatas. Investor akan mencermati perkembangan geopolitik Timur Tengah sekaligus arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Amru memperkirakan rupiah masih bergerak konsolidatif dengan peluang penguatan yang terbatas.

“Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif dengan peluang penguatan terbatas di kisaran Rp17.750–Rp17.850 per dolar AS,” ungkap Amru.

Dengan demikian, arah rupiah dalam beberapa waktu ke depan masih akan sangat dipengaruhi kombinasi antara sentimen geopolitik, perkembangan harga energi, data ekonomi AS, dan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.

Bagi pasar domestik, perkembangan tersebut menjadi penting karena perubahan nilai tukar dan harga energi dapat memberikan dampak lanjutan terhadap inflasi, biaya impor, hingga aktivitas ekonomi nasional.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru