Selasa, 29 September 2026

Ekonom Ungkap Empat Hal yang Ditunggu Pasar dari RAPBN 2027


 Ekonom Ungkap Empat Hal yang Ditunggu Pasar dari RAPBN 2027 Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian ditemui di kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (21/1/2026). (ANTARA/Maria Cicilia Galuh)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pelaku pasar dinilai tidak lagi sekadar menunggu angka-angka dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Yang lebih penting, investor ingin melihat peta besar arah kebijakan ekonomi Indonesia yang akan dibawa pemerintah ke depan.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, mengatakan perhatian pasar kini tertuju pada bagaimana pemerintah merancang kebijakan fiskal, moneter, pembiayaan pembangunan, hingga strategi menghadapi perubahan ekonomi global.

“Dalam kondisi normal, pasar biasanya fokus pada angka defisit, target pertumbuhan, atau asumsi makro. Namun tahun ini berbeda,” kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (13/8/2026).

Bukan Sekadar Angka RAPBN 2027

Menurut Fakhrul, pasar sebenarnya sudah memiliki gambaran mengenai sejumlah angka penting dalam RAPBN 2027. Pemerintah dan DPR sebelumnya telah menyepakati kisaran pertumbuhan ekonomi 2027 sebesar 5,8 persen hingga 6,5 persen.

Sementara itu, defisit fiskal disepakati berada pada kisaran 1,8 persen hingga 2,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Asumsi nilai tukar rupiah juga berada di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS.

Karena itu, perhatian investor kini bergeser. Mereka ingin mengetahui bagaimana angka-angka tersebut diterjemahkan menjadi strategi ekonomi yang konkret dan berkesinambungan.

Fakhrul menilai ada setidaknya empat pertanyaan besar yang sedang ditunggu jawabannya oleh pasar.

1. Konsolidasi atau Ekspansi Ekonomi?

Pertanyaan pertama adalah apakah RAPBN 2027 akan menjadi awal fase konsolidasi setelah gejolak ekonomi pada 2026, atau justru menjadi fondasi bagi ekspansi pembangunan yang lebih agresif.

Investor ingin melihat bagaimana pemerintah menjaga keseimbangan antara kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menjaga kesehatan fiskal.

Arah tersebut penting karena keputusan pemerintah dalam RAPBN 2027 akan memberikan sinyal mengenai strategi ekonomi Indonesia untuk beberapa tahun mendatang.

2. Siapa yang Akan Menjadi Motor Pembiayaan Pembangunan?

Pasar juga menunggu kejelasan mengenai pembagian peran antara APBN, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Danantara, dan sektor keuangan dalam membiayai pembangunan nasional.

Menurut Fakhrul, investor perlu memahami bagaimana berbagai sumber pembiayaan tersebut akan ditempatkan dalam satu strategi yang terintegrasi.

Kejelasan pembagian peran dinilai penting agar pembangunan tidak terlalu bertumpu pada satu sumber pembiayaan saja.

3. Bagaimana Mengurangi Ketergantungan pada Modal Jangka Pendek?

Pertanyaan ketiga berkaitan dengan struktur pembiayaan Indonesia, terutama ketergantungan terhadap arus portofolio jangka pendek.

Fakhrul menilai keberhasilan menjaga stabilitas pasar keuangan sepanjang 2026 merupakan pencapaian penting. Namun, tantangan berikutnya adalah membangun sumber pembiayaan yang lebih permanen.

Sumber tersebut antara lain dapat berasal dari investasi langsung, industrialisasi, serta penguatan neraca pembayaran.

Dengan struktur pembiayaan yang lebih kuat, Indonesia diharapkan tidak terlalu rentan terhadap perubahan sentimen investor global dan gejolak arus modal.

4. Bagaimana Indonesia Menghadapi Biaya Modal Global yang Meningkat?

Investor juga menunggu bagaimana pemerintah membaca perubahan besar dalam perekonomian global.

Salah satu tantangan yang semakin penting adalah meningkatnya biaya modal jangka panjang. Dunia kini bergerak menuju kondisi ketika suku bunga jangka panjang cenderung lebih tinggi dibandingkan era sebelumnya.

Perubahan tersebut akan berdampak pada biaya pembiayaan pembangunan, investasi, hingga strategi pengelolaan utang di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Karena itu, pasar ingin melihat apakah pemerintah telah menyiapkan strategi yang cukup kuat untuk menghadapi lingkungan ekonomi global yang semakin mahal dan penuh ketidakpastian.

Pidato Presiden Prabowo Jadi Sorotan Pasar

Fakhrul mengatakan pidato Presiden Prabowo Subianto dalam penyampaian Nota Keuangan tahun ini menjadi salah satu momen komunikasi kebijakan yang paling ditunggu pasar sepanjang 2026.

Bagi investor, Nota Keuangan bukan hanya dokumen yang berisi target penerimaan, belanja, defisit, dan asumsi ekonomi. Dokumen tersebut juga menjadi petunjuk mengenai arah kebijakan pemerintah.

Pasar akan membaca apakah strategi yang disampaikan pemerintah memiliki arah yang jelas, konsisten, dan mampu menjawab tantangan ekonomi dalam beberapa tahun ke depan.

“Nota Keuangan juga berfungsi sebagai expectation guidance bagi pasar keuangan. Investor akan menilai bukan hanya angka yang disampaikan, tetapi juga arah, konsistensi, dan keyakinan yang ditunjukkan pemerintah terhadap strategi ekonomi Indonesia ke depan,” tutur Fakhrul dikutip Antara.

Dengan demikian, perhatian pasar terhadap RAPBN 2027 tidak berhenti pada pertanyaan berapa besar anggaran yang disiapkan pemerintah, tetapi bergerak lebih jauh: ke mana ekonomi Indonesia akan diarahkan dan bagaimana pemerintah membiayai perjalanan menuju ke sana.


 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru