Loading
Tampilan Scarlett Johansson saat berperan sebagai Natasha Romanoff alias Black Widow di Marvel Cinematic Universe. ANTARA/Instagram Black Widow/pri.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Aktris Hollywood Scarlett Johansson mengungkap pengalaman sulit yang ia hadapi saat memulai karier di industri film pada awal 2000-an.
Mengutip laporan Variety Minggu (12/4/2026), Johansson menyebut era tersebut sebagai masa yang “sangat keras” bagi aktris perempuan muda, terutama karena tekanan besar terkait penampilan fisik.
“Itu sulit. Banyak tekanan terkait penampilan perempuan. Peran atau peluang yang ditawarkan bagi perempuan seusia saya saat itu jauh lebih terbatas dibandingkan sekarang,” kata Johansson dalam wawancara dengan CBS Sunday Morning.
Menurut bintang film Black Widow ini, aktris muda pada masa itu kerap terjebak dalam stereotip karakter yang sempit.
“Anda akan sangat mudah terjebak dalam satu tipe peran. Biasanya hanya jadi perempuan lain, selingan, atau sosok seksi,” ujarnya.
Johansson mengungkap bahwa pada usia 20-an, pilihan peran yang tersedia sangat terbatas dan cenderung berulang. Hal ini membuat banyak aktris kesulitan berkembang secara artistik.
Ia pun menyadari bahwa tekanan industri membuat aktor muda sering merasa harus menerima setiap tawaran pekerjaan, meskipun tidak selalu sesuai dengan keinginan mereka.
“Begitu mulai bekerja, rasanya setiap pekerjaan bisa jadi yang terakhir. Jadi ketika ada kesempatan, Anda merasa harus mengambilnya,” tambahnya.
Untuk keluar dari pola tersebut, Johansson memilih kembali ke dunia teater di New York. Keputusan ini memberinya ruang untuk mengeksplorasi kemampuan akting tanpa tekanan stereotip Hollywood.
Ia juga belajar untuk lebih selektif dalam memilih peran dan menunggu proyek yang benar-benar sesuai dengan visi kariernya.
Setelah lebih dari dua dekade berkarier, Johansson melihat adanya perubahan positif di industri film, terutama dalam hal representasi perempuan.
Ia menilai kini semakin banyak peran yang kuat dan memberdayakan bagi aktris muda dibandingkan masa awal kariernya.
Johansson sendiri mulai dikenal luas sejak membintangi film Lost in Translation pada 2003 saat usianya masih 17 tahun. Sejak saat itu, ia terus membangun karier dengan berbagai peran di film besar seperti The Prestige dan Iron Man 2.
Kini, ia menjadi salah satu aktris papan atas Hollywood yang berhasil melewati berbagai tantangan industri dan terus berkembang dengan pilihan peran yang lebih beragam.