Loading
Alat musik Sasando dimainkan dengan cara dipetik. Suara yang keluar dari alat musik ini sangat khas. (midspot)
INDONESIA adalah sebuah negeri yang sangat indah. Di balik keindahan itu dihuni beragam suku bangsa dengan etnik dan budaya yang berbeda dan khas. Setiap etnik dan budaya daerah yang beragam itu memiliki alat musik, tarian dan lagunya masing-masing.
Salah satu alat musik tradisional yang sangat menarik dan patut diketahui adalah alat musik Sasando yang berasal dari Suku Rote di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur - NTT. Sebuah pulau yang terletak di titik nol selatan Indonesia. Alat musik Sasando ini sangat terkenal karena memiliki bentuk yang sangat unik, suara yang khas serta sejarah yang menarik.
Alat musik Sasando dimainkan dengan cara dipetik. Suara yang keluar dari alat musik ini sangat khas. Sehingga, ia menjadi sangat terkenal bukan hanya di Indonesia tetapi juga di manca negara. Sudah sering diadakan pertunjukkan permainan alat musik Sasando ini di dalam dan luar negeri.
Baca juga:
Di Expo and Conference Asian Games 2018, Kemendes PDTT Promosikan Produk Kebudayaan DaerahDan saat ini sudah dilakukan pembaharuan alat musik ini, sehingga Sasando menjadi dua jenis yang satu alat musik dengan bahan dasar asli dari daun pohon lontar dan bambu, dan yang satu lagi alat musik Sasando modern elektrik dengan bahan bukan lagi dari daun pohon lontar dan bambu.
Sejarah Lahirnya Alat Musik Sasando
Lalu bagaimana sejarah lahirnya alat musik Sasando yang sangat unik dan khas ini. Terdapat beberapa versi, tetapi penulis mengangkat satu versi saja yang lebih dianggap mendekati kebenarannya oleh masyarakat Rote dan cerita itu menjadi sebuah legenda hingga saat ini.
Sebagaimana dikisahkan, awalnya adalah seorang pemuda yang terdampar di Pulau Ndana sekitar tahun 1950. Pulau Ndana adalah Pulau terluar di titik nol Indonesia yang kini sudah tidak ada penghuni lagi, hanya sekira 38 orang anggota TNI dari Angkatan Darat dan Angkatan laut yang mengawasi keberadaan pulau tersebut agar tidak dicaplok negara lain.
Pemuda tersebut bernama Sanggauna, ia dibawa penduduk setempat menghadap raja atau kepala suku di Pulau Ndana. Karena Sanggauna memiliki bakat di bidang seni, membuat sang putri raja terpikat, jatuh hati dan ingin dipersunting menjadi istri oleh Sanggauna. Tetapi sang raja meminta satu syarat dan kalau terpenuhi, baru sang pemuda itu boleh mempersunting sang putri. Syaratnya adalah minta dibuatkan sebuah alat musik yang belum pernah ada.
Satu malam Sanggauna bermimpi sedang memainkan sebuah alat musik yang indah dengan bentuk yang sangat unik dan suara yang khas. Sanggauna bangun lalu membuat sebuah alat musik seperti yang ada dalam mimpi. Alat musik yang dibuatnya itu diberi nama sandu artinya bergetar. Orang-orang Rote menyebutnya sebagai sasandu, yang artinya alat bergetar atau berbunyi.
Alat musik itu pun diserahkan Sanggauna kepada sang raja sebagai syarat untuk bisa menikahi sang putri. Maka terjadilah pernihan antara Sanggauna sang pemuda yang terdampar di Pulau Ndana dengan putri sang raja.
Dari sejarahnya ini pula, Sasando biasanya digunakan pada acara-acara adat, acara pernikahan. Karena Sasando memiliki nilai moral, religius, pendidikan, bahkan juga pada upacara kematian, dan lain-lain. Karena itulah alat musik Sasando dirawat hingga hari ini.
Cara Memainkan Alat Musik Sasando
Sasando dimainkan dengan cara dipetik mirip dengan bermain kecapi. Menurut pengalaman orang yang ppernah belajar memainkan Sasando, ternyata tidak gampang memainkannya. Karena sang pemain harus benar-benar memahami nada-nadanya.
Cara memetiknya dengan menggunakan dua tangan, dan kunci atau chord dimainkan oleh tangan kanan sedangkan bas atau melodi dimainkan dengan tangan kiri. Sedangkan untuk memainkan nada-nada yang lain Sasando bisa dimainkan dua arah.
Perlu dicatat bahwa ada alat musik Sasando sangat berpengaruh pada hasil suaranya.