Minggu, 02 Agustus 2026

10 Klaster TB Baru Terdeteksi di Malaysia, Johor Catat Kasus Tertinggi


 10 Klaster TB Baru Terdeteksi di Malaysia, Johor Catat Kasus Tertinggi 10 Klaster TB Baru Terdeteksi di Malaysia, Johor Catat Kasus Tertinggi. (Alodokter)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Malaysia mendeteksi 10 klaster tuberkulosis baru di tujuh negara bagian hingga 7 Februari 2026, dengan Johor mencatat jumlah kasus tertinggi sebanyak 37 pasien. Informasi tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Malaysia Dzulkefly Ahmad dalam sesi tanya jawab di parlemen pada 10 Februari.

Klaster terbesar berasal dari Kota Tinggi, Johor, yang melibatkan 29 anak dan delapan orang dewasa. Kasus pertama dalam klaster tersebut ditelusuri ke seorang guru agama perempuan berusia 72 tahun. Kasus lanjutan kemudian ditemukan melalui pelacakan kontak dan pengujian aktif oleh petugas kesehatan.

Secara keseluruhan, dilansir CNA, otoritas kesehatan telah mengidentifikasi 903 kontak dekat yang menjalani pemeriksaan TB. Individu yang menunjukkan gejala langsung dirujuk untuk mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan pemerintah.

Selain Johor, Selangor tercatat memiliki jumlah klaster terbanyak, yakni empat klaster dengan total 10 kasus. Sabah melaporkan lima kasus dari satu klaster, Pahang empat kasus dari satu klaster, sementara Kedah, Kelantan, dan Perlis masing-masing mencatat dua kasus dari satu klaster.

TB merupakan penyakit menular melalui udara yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis dan paling sering menyerang paru-paru. Penyakit ini dapat menimbulkan kerusakan permanen jika tidak ditangani sejak dini, meski tidak semua orang yang terpapar akan langsung sakit.

Kementerian Kesehatan Malaysia mencatat total 2.571 kasus TB dari 1 Januari hingga 7 Februari 2026, meningkat 229 kasus atau sekitar 9,8 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, negara tersebut melaporkan 88 klaster TB dengan 254 kasus, dan 35 klaster masih berstatus aktif.

Pemerintah menegaskan tingkat imunisasi anak melalui Program Imunisasi Nasional telah mencapai hampir 99 persen, tetapi Malaysia dinilai masih jauh dari target eliminasi TB. Pejabat kesehatan mengingatkan bakteri TB bisa tetap laten di tubuh dan aktif kembali ketika daya tahan tubuh menurun.

Otoritas kesehatan juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama saat bepergian atau berada di ruang publik. Penggunaan masker, ventilasi ruangan yang baik, serta pemeriksaan medis dini jika mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan, demam, penurunan berat badan, dan hilang nafsu makan dinilai penting untuk mencegah penyebaran.

Para pakar menegaskan keberhasilan pengendalian TB bergantung pada akses pemeriksaan dan pengobatan bagi seluruh penduduk tanpa terkecuali. Pengobatan TB umumnya memerlukan kombinasi obat selama enam hingga sembilan bulan, dan terapi harus diselesaikan agar bakteri tidak menjadi kebal obat.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru