Loading
Ilustrasi protein Neurosurgery Spine Consultants
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Spesialis anak konsultan alergi dan imunologi lulusan Universitas Indonesia, dr. Molly Dumakuri Oktarina, (K), menegaskan bahwa anak yang memiliki alergi terhadap susu sapi tidak otomatis harus menghindari konsumsi daging sapi.
Ia menjelaskan bahwa alergi susu sapi hanya berkaitan dengan protein tertentu dalam susu, bukan pada dagingnya.
“Alhamdulillah tidak (alergi daging sapi). Jadi kalau alergi terhadap protein susu sapi, hanya protein susu sapinya saja, dagingnya tidak, jadi masih bisa makan daging,” ujar dr. Molly dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Lebih lanjut, dr. Molly menjelaskan bahwa faktor genetik dari orang tua memiliki pengaruh besar terhadap risiko alergi pada anak.
Jika salah satu orang tua memiliki riwayat alergi, maka peluang anak mengalami alergi berada di kisaran 20–40 persen. Namun, jika kedua orang tua memiliki alergi, risiko tersebut meningkat hingga 40–60 persen.
“Misalnya ibunya asma, bapaknya juga asma, maka risiko anaknya bisa sampai 80 persen,” jelasnya.
Menariknya, ia juga menyebutkan bahwa meskipun tanpa riwayat alergi pada orang tua, anak tetap memiliki risiko sekitar lima persen untuk mengalami alergi.
Menurutnya, alergi tidak hanya dipengaruhi oleh genetik, tetapi juga paparan lingkungan. Gejala alergi umumnya muncul jika terdapat kombinasi faktor keturunan dan paparan pemicu.
“Kalau hanya salah satu faktor saja, biasanya gejala alergi sulit muncul,” ujarnya.
Dari sisi pencegahan, pemberian air susu ibu (ASI) dinilai memiliki peran penting dalam membantu menurunkan risiko alergi pada anak.
Selain itu, metode persalinan juga disebut berpengaruh terhadap perkembangan mikrobiota usus bayi yang berkaitan dengan sistem imun.
“Cara persalinan berpengaruh pada mikrobiota baik anak. Mikrobiota ini membantu sistem imun sehingga dapat mencegah kejadian alergi,” kata dr. Molly.