Loading
Ilustrasi - Aneka produk olahan daging. Freepik.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kebiasaan merokok, mengunyah tembakau, mengonsumsi alkohol, dan infeksi Human Papillomavirus (HPV) selama ini dikenal sebagai faktor utama penyebab kanker mulut. Namun, para ahli mengingatkan bahwa pola makan tertentu juga dapat meningkatkan risiko penyakit tersebut.
Sebagaimana dikutip dalam siaran Eatingwell pada Senin (8/6/2026), salah satu jenis makanan yang menjadi sorotan adalah daging olahan seperti bacon, sosis, ham, hot dog, dan daging olahan siap saji lainnya. Makanan ini telah lama dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker rongga mulut dan kanker orofaring.
Kepala Pengobatan Mulut, Onkologi Mulut, dan Kedokteran Gigi Herbert Wertheim Cancer Institute, Alessandro Villa, menjelaskan bahwa daging olahan mengandung bahan pengawet berupa nitrat dan nitrit yang dapat membentuk senyawa karsinogenik di dalam tubuh.
“Daging olahan, termasuk bacon, sosis, ham, hot dog, dan daging deli, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker rongga mulut dan orofaring,” ujar Villa.
Menurutnya, Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) telah mengategorikan daging olahan sebagai karsinogen Grup 1, yang berarti terdapat bukti kuat bahwa produk tersebut dapat menyebabkan kanker pada manusia.
Selain kandungan pengawet, metode memasak juga berpengaruh terhadap risiko kesehatan. Dokter spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT), Kelly F. Moyer, menjelaskan bahwa proses memanggang, mengasap, atau membakar daging pada suhu tinggi dapat menghasilkan senyawa berbahaya.
“Karena memasak dengan suhu tinggi menghasilkan bahan kimia yang disebut hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) dan amina aromatik heterosiklik (HAA), yang dapat menyebabkan kerusakan langsung pada DNA dalam sel Anda,” kata Moyer.
Tak hanya itu, konsumsi daging olahan secara berlebihan juga dapat memicu peradangan kronis di rongga mulut. Kondisi tersebut dapat mengganggu kemampuan tubuh memperbaiki sel yang rusak dan berpotensi mempercepat pertumbuhan sel abnormal.
Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa gangguan keseimbangan mikrobioma mulut dapat berkontribusi terhadap munculnya kanker mulut. Ketidakseimbangan bakteri dalam rongga mulut diyakini dapat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan sel kanker.
Para ahli menekankan bahwa risiko kanker mulut dapat ditekan dengan menerapkan gaya hidup sehat. Langkah yang disarankan antara lain menghindari rokok dan alkohol, memperbanyak konsumsi buah serta sayuran kaya antioksidan, serta menjaga kebersihan gigi dan mulut secara rutin.
“Menyikat gigi dan menggunakan benang gigi setiap hari, dikombinasikan dengan pembersihan gigi secara teratur, mengurangi peradangan dan mengendalikan bakteri berbahaya,” ujar Moyer.
Selain itu, vaksinasi HPV juga direkomendasikan, terutama bagi individu berusia hingga 26 tahun. Saat ini, infeksi HPV menjadi salah satu penyebab utama kanker tenggorokan dan kanker mulut, khususnya pada kelompok usia muda.
Dengan pola makan seimbang dan perawatan kesehatan mulut yang baik, risiko terkena kanker mulut dapat diminimalkan sejak dini.