Jumat, 11 September 2026

Prabowo Bantah MBG Hamburkan Anggaran: Uang dari Pangkas Belanja Tak Produktif


  • Jumat, 13 Februari 2026 | 14:00
  • | News
 Prabowo Bantah MBG Hamburkan Anggaran: Uang dari Pangkas Belanja Tak Produktif Ilustrasi Dapur MBG di Bogor. (bogor.pojoksatu.id)

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Presiden RI Prabowo Subianto menepis tudingan yang menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai pemborosan anggaran. Menurut Kepala Negara, pendanaan MBG justru berasal dari hasil efisiensi belanja pemerintah—bukan dari penambahan pos baru yang membebani keuangan negara.

Pernyataan itu disampaikan Presiden saat menghadiri agenda groundbreaking 1.179 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Palmerah, Jumat (13/2/2026). Dalam pidatonya, Presiden mengakui sejak awal peluncuran, MBG kerap diramalkan gagal dan dicap menghambur-hamburkan uang.

“Sejak awal ada yang bilang program ini pasti gagal, menghambur-hamburkan uang,” ujar Presiden. Namun ia menegaskan, narasi tersebut keliru.

Prabowo menjelaskan, anggaran MBG bersumber dari pemangkasan belanja yang dinilai tidak produktif. Pemerintah mengurangi praktik pemborosan seperti rapat berulang, seminar seremonial, serta perjalanan dinas yang minim dampak langsung bagi masyarakat. Dana yang dihemat itu kemudian dialihkan ke program yang manfaatnya nyata dan terukur.

“Uang ini adalah hasil penghematan dan efisiensi. Kalau tidak kita hemat, saya dan tim saya yakin, anggaran itu berisiko bocor dan dimakan korupsi—untuk memperkaya oknum-oknum tertentu,” tegasnya.

Lebih jauh, Presiden menilai kritik dalam demokrasi adalah hal wajar. Namun, kebijakan yang menyasar kebutuhan dasar—terutama gizi anak dan kelompok rentan—seharusnya dilihat sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar belanja tahunan.

Ia mengingatkan, kekurangan gizi berdampak langsung pada kualitas tumbuh kembang anak. Sel-sel tubuh, termasuk otak, tulang, dan otot, tidak berkembang optimal jika asupan gizi tidak terpenuhi. Dalam konteks ini, stunting menjadi persoalan serius karena berkelindan dengan kemiskinan struktural.

“Angka stunting kita pernah di kisaran 25 persen. Ini bukan angka kecil,” ujar Presiden. Karena itu, menurutnya, mengalihkan anggaran dari pos-pos yang tak produktif ke program gizi adalah langkah strategis untuk memutus rantai kemiskinan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru