Loading
Tunggal putri Indonesia Gregoria Mariska Tunjung (kiri) didampingi pelatih Imam Tohari (kanan) saat melawan wakil Malaysia Wong Ling Ching pada partai ketiga semifinal beregu putri SEA Games 2025 di di Gymnasium 4 Thammasat University Rangsit Campus, Pathum Thani, Bangkok, Senin (8/12/2025). ANTARA/Muhammad Ramdan.
BANGKOK, ARAHKITA.COM - Indonesia harus bekerja ekstra keras di final beregu putri SEA Games 2025. Pada laga ketiga, tunggal putri andalan Gregoria Mariska Tunjung belum mampu menahan dominasi pemain Thailand, Ratchanok Intanon, sehingga Merah Putih tertinggal 1-2 dalam duel yang berlangsung di Gymnasium 4, Thammasat University Rangsit Campus, Bangkok, Rabu (10/12/2025).
Gregoria kesulitan menemukan ritme sejak awal pertandingan. Intanon langsung menekan dengan tempo cepat dan penguasaan reli yang solid. Gim pertama pun berakhir dengan skor telak 7-21, sebelum Gregoria mencoba bangkit di gim kedua namun tetap tertahan dengan skor 15-21. Pertandingan hanya berlangsung 32 menit, cukup menggambarkan dominasi pemain tuan rumah.
Hasil ini membuat Thailand mengambil alih keunggulan setelah sempat tertinggal 0-1. Di atas kertas, Intanon memang tampil percaya diri berbekal rekor pertemuan yang unggul jauh, yaitu 10 kemenangan dari 13 duel sebelumnya.
Kini perjuangan Indonesia untuk menyamakan kedudukan berada pada pasangan ganda putri Febriana Dwipuji Kusuma / Meilysa Trias Puspitasari yang akan menantang duet Thailand Ornnicha Jongsathpornparn / Jhenicha Sudjaipraparat di partai keempat. Jika berhasil menyamakan skor menjadi 2-2, laga penentu akan mempertemukan Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi menghadapi Supanida Katethong dikutip Antara.
Sebelumnya, Indonesia membuka harapan lewat tunggal putri Putri Kusuma Wardani yang tampil impresif dan menundukkan Pornpawee Chochuwong dengan skor 21-8, 13-21, 21-16. Namun momentum itu terhenti ketika pasangan Rachel Allessya Rose / Febi Setianingrum harus mengakui keunggulan Benyapa Aimsaard / Supissara Paewsampran dalam laga ketat tiga gim: 18-21, 21-11, 18-21.
Dengan dua partai tersisa, peluang Indonesia tetap terbuka—meski tekanan di kubu Merah Putih semakin besar.