Bukan Sekadar Jajan, Ini Cara Ajarkan Anak Kelola Finansial Lewat Uang Saku


 Bukan Sekadar Jajan, Ini Cara Ajarkan Anak Kelola Finansial Lewat Uang Saku Ilustrasi - Banyak orang tua mulai memperkenalkan uang saku sejak anak masuk usia sekolah dasar, sekitar 5–7 tahun. (koinworks)

MEMBERI uang saku kepada anak bukan sekadar urusan “uang jajan”. Bagi banyak keluarga Indonesia, keputusan ini sering memicu perdebatan: takut anak boros, takut terlalu dimanjakan, atau justru khawatir anak tidak belajar mengelola uang sejak dini.

Para ahli menilai, uang saku bisa menjadi alat pendidikan finansial yang sederhana namun efektif, asalkan diberikan dengan pendekatan yang tepat dan konsisten.

Uang Saku bukan Soal Besar-Kecil, tapi Soal Kebiasaan

Pakar keuangan konsumen Vix Leyton menegaskan bahwa uang saku membantu anak memahami nilai uang secara nyata. Namun, ia juga mengingatkan bahwa tidak ada satu pola yang cocok untuk semua keluarga.

Dalam konteks Indonesia, nominal uang saku sangat dipengaruhi kondisi ekonomi keluarga, lokasi tempat tinggal, hingga kebutuhan anak—apakah hanya untuk jajan ringan, atau juga transportasi dan keperluan sekolah.

Yang terpenting, uang saku menjadi pintu masuk percakapan tentang pilihan, prioritas, dan konsekuensi sebagaimana diolah dan dikembangkan dari laporan Independent.co.uk

Usia Ideal Memberi Uang Saku pada Anak Indonesia

Banyak orang tua mulai memperkenalkan uang saku sejak anak masuk usia sekolah dasar, sekitar 5–7 tahun. Di usia ini, anak mulai memahami konsep berhitung dan sebab-akibat sederhana: jika uang dipakai hari ini, besok harus menunggu.

Menurut Leyton, orang tua tidak perlu menunggu anak “cukup besar”. Selama anak sudah paham bahwa uang bisa habis jika dibelanjakan, uang saku sudah bisa diperkenalkan—tentu dengan nominal kecil.

Berapa Uang Saku yang Wajar?

Tidak ada angka baku untuk Indonesia. Namun, orang tua bisa menggunakan prinsip sederhana:

  • Anak usia SD awal: nominal kecil, fokus belajar memilih dan menunggu
  • Anak SD akhir–SMP: mulai belajar membagi antara jajan, tabungan, dan keinginan
  • Remaja: uang saku bisa mencakup kebutuhan tertentu (pulsa, nongkrong terbatas) agar belajar mengatur anggaran

Leyton menekankan, jumlah uang saku jauh lebih penting sebagai alat belajar, bukan ukuran kasih sayang orang tua.

Konsistensi Lebih Penting daripada Jumlah

Uang saku sebaiknya diberikan secara rutin—misalnya mingguan atau bulanan—dan dengan tujuan yang jelas. Anak perlu tahu:

  • Kapan uang saku diberikan
  • Untuk apa saja uang itu boleh digunakan
  • Apa yang tidak akan ditanggung orang tua di luar uang saku

Tanpa konsistensi, orang tua berisiko menjadi “ATM dadakan” setiap kali anak meminta.

Perlukah Uang Saku Dikaitkan dengan Pekerjaan Rumah?

Mengaitkan uang saku dengan pekerjaan rumah bisa membantu anak memahami hubungan antara usaha dan imbalan. Namun, Matt Buttery dari program pengasuhan Triple P mengingatkan pentingnya keseimbangan.

Anak juga perlu belajar bahwa membantu di rumah adalah bagian dari tanggung jawab keluarga, bukan selalu soal bayaran. Beberapa tugas bisa bersifat wajib, sementara tugas tambahan boleh diberi apresiasi.

Belajar Menabung dan Mengendalikan Diri

Dengan uang saku, anak bisa mulai belajar menabung untuk barang yang mereka inginkan. Proses menunggu dan menyisihkan uang sedikit demi sedikit membangun rasa percaya diri dan kendali diri.

Kesalahan kecil—seperti menghabiskan uang terlalu cepat—sering kali justru menjadi pelajaran paling efektif tentang kesabaran dan pengambilan keputusan.

Kunci Utama: Bicarakan Uang Secara Terbuka

Uang saku bukan tentang mencetak anak super hemat, melainkan membesarkan anak yang tidak takut membicarakan uang. Percakapan terbuka, sesuai usia, membantu anak memahami bahwa uang perlu dikelola, direncanakan, dan dipertanggungjawabkan.

Semakin dini kebiasaan ini ditanamkan di rumah, semakin siap anak menghadapi keputusan finansial yang lebih besar di masa depan.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Finansialku Terbaru