Yuk, Kenali Masa Kritis Pernikahan


 Yuk, Kenali Masa Kritis Pernikahan Waktu selama 48 bulan ini merupakan masa-masa kritis untuk mengembangkan pola hubungan. (Net)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Sharon Parks, ahli psikologi perkembangan dari Harvard mengatakan bahwa masa pernikahan dewasa muda adalah masa yang sangat kritis. Di tengah jiwa muda yang masih menggelora, pasangan-pasangan muda membangun kehidupan pernikahan mereka dengan 1001 macam idealisme.

Seringkali tanpa disadari mereka tidak dapat menentukan prioritas mana yang harus didahulukan. Terlebih di tengah spirit hedonistik zaman ini, dimana hidup diidentikkan dengan kenikmatan dan pengumpulan kekayaan yang akhirnya mengabaikan upaya membangun hubungan antar pasangan.

Sharon Parks memperjelasnya melalui ilustrasi berikut. Dalam memenuhi kebutuhan finansial dan material, A memang suami yang baik bahkan cenderung memanjakan istri dan anak-anaknya. Tetapi apa artinya kelimpahan materi, jikalau jiwa kering dan tidak bahagia. Kemana-mana B (istri A) selalu sendiri. Ke gereja, belanja ke toko, pergi berobat, menghadiri resital piano anak- anaknya, bahkan berkunjung ke rumah orang-tua di luar kota. Selalu ada alasan bagi A untuk tidak ikut serta.

Dalam pernikahannya yang baru berusia 8 tahun, A sudah berhasil membuktikan kepiawaiannya dalam ekspor dan impor. Sudah berulang kali B mengutarakan ketidakpuasannya, tetapi tidak pernah ada perbaikan. Lama-kelamaan B menjadi apatis dan membiarkan sistim kehidupan pernikahan yang hambar ini menjadi bagian dari kehidupan yang memang harus diterima, dan ia menyibukkan diri dalam kegiatan rohani. Pada suatu hari, B dikejutkan dengan berita bahwa A mempunyai WIL (wanita idaman lain) yang sudah digaulinya selama lebih dari 3 tahun. B sangat marah, kecewa dan putus asa. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Kasus di atas adalah potret sebagian pasangan yang masa pernikahannya melewati masa kritis. Namun demikian sebagian pasangan tidak demikian. Penelitian yang dilakukan Ted Huston, Ph.D dari Amerika Serikat menemukan bahwa pasangan yang berhasil melewati dua tahun pertama perkawinan, mereka lolos pula pada tahun-tahun berikutnya. Waktu selama 48 bulan ini merupakan masa-masa kritis untuk mengembangkan pola hubungan.

masa pernikahan the_end

Selama kurun waktu itu pula mereka membicarakan, mendiskusikan dan menyepakati cara menjalani hidup bersama-sama. Misalnya, bagaimana mengelola keuangan, pembagian kerja di rumah, cara menghabiskan waktu luang bersama, memahami perbedaan masing-masing, belajar menghadapi konflik dan membicarakan masing-masing. Semua itu berlangsung dengan masing-masing berpikir positif dan respek terhadap pasangan.

Pasangan harus mengenali tahun-tahun rawan dalam perkawinan yang perlu diwaspadai. Pasangan yang bisa melewati masa ini adalah mereka yang selalu punya pandangan positif terhadap pasangannya, tidak mudah menyerah, dan mau bersama-sama mencari jalan keluar dari setiap persoalan. Meski tahun-tahun pertama ini sulit, mereka akan tetap mengenangnya sebagai tahun-tahun pertama yang penuh keintiman, kemesraan, dan saling belajar. Yang tak kalah penting, bisa menjadi pelajaran serta pengalaman berharga untuk menempuh tahun-tahun berikut.

Berikut 10 Perintah PernikahanMasa-masa kritis pernikahan perlu disikapi pasangan secara positif dan respek terhadap pasangan. Dengan demikian hubungan harmonis pasangan tercipta. Salah satu kiatnya adalah dengan mematuhi “Sepuluh Perintah Pernikahan”. Berikut Anda simak!1. Tetap memelihara rasa cinta dan kedekatan.2. Tidak mementingkan diri sendiri.3. Menyediakan waktu luang bersenang-senang berdua.4. Tidak menghindari konflik.5. Respek terhadap pasangan.6. Jangan terlalu tenggelam dalam aktivitas lain.7. Jangan boros.8. Jangan terlalu bergantung pada orangtua.9. Bicarakan secara terbuka jika ada masalah seksual.10. Memetok harapan yang masuk akal.

Bagaimana dengan pasangan Anda? Selamat mencoba. (Diolah dari berbagai sumber)

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Wedding Terbaru