Loading
Sekretaris BSKDN Noudy R.P. Tendean. ANTARA/HO-BSKDN/aa.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, PDI Perjuangan memilih tak hanya menjadi penonton. Partai berlambang banteng itu menggelar diskusi terbatas bersama sejumlah pakar ekonomi, fiskal, dan moneter untuk membaca arah situasi sekaligus menyiapkan rekomendasi kebijakan yang lebih berpijak pada realitas.
Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto menjelaskan, forum yang berlangsung di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, tersebut menjadi ruang untuk menimbang berbagai tekanan yang kini memengaruhi ekonomi nasional—mulai dari sektor riil hingga gejolak pasar modal.
“Kami membahas kondisi ekonomi secara utuh, termasuk dampak fluktuasi pasar dan tantangan global yang tidak ringan. Tujuannya jelas, menentukan arah masa depan ekonomi bangsa dengan langkah yang lebih terukur,” ujar Hasto, Rabu (11/2/2026).
Menurutnya, Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah besar. Lapangan kerja yang terbatas, angka kemiskinan yang belum turun signifikan, serta ketertinggalan di bidang pendidikan dan teknologi harus dijawab dengan kebijakan yang lebih berani dan tepat sasaran.
Hasto menegaskan PDIP ingin mengambil peran sebagai penyeimbang yang konstruktif bagi pemerintahan Presiden Prabowo. “Partai harus menjadi obor pergerakan bangsa. Kami menyiapkan kajian agar risiko bisa dimitigasi lebih awal, bukan reaktif setelah masalah membesar,” katanya.
Tekanan Global dan Pentingnya Kepercayaan
Nada serupa disampaikan Ketua DPP PDIP Bidang Sumber Daya sekaligus Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah. Ia menilai beberapa pekan terakhir Indonesia menghadapi tekanan eksternal yang cukup kuat, terutama dari lembaga keuangan global seperti MSCI, Moody’s, dan FTSE.
Baca juga:
Kadin Optimistis Investor Jerman Bakal Tambah Investasi di Indonesia, IEU-CEPA Jadi Pendorong Utama“Tiga pekan ini kita dihantam sentimen luar biasa. Situasi seperti ini seharusnya direspons cepat oleh pemerintah, bahkan dipimpin langsung oleh Presiden, termasuk dengan segera mengaktifkan rapat KSSK,” tegas Said.
Ia mengingatkan bahwa yang paling krusial saat ini adalah menjaga trust investor. Menurutnya, kebanggaan pada angka pertumbuhan ekonomi tak akan berarti jika tidak dibarengi transparansi dan tata kelola pasar modal yang sehat.
“Ada anomali ketika pertumbuhan diklaim 5,11 persen, tapi penerimaan negara justru shortfall. Artinya ada yang perlu dibenahi lebih mendasar,” ujarnya dikutip Antara.
Said juga menekankan pentingnya independensi Bank Indonesia dan OJK agar mampu meredam guncangan ekonomi, terutama pada kuartal pertama dan kedua tahun ini.
Libatkan Pakar Lintas Disiplin
Diskusi tertutup tersebut menghadirkan sejumlah ekonom dan analis kebijakan, di antaranya Yanuar Rizky, Dr. Hendri Saparini, Awalil Rizky, Dr. Yustinus Prastowo, dan Dr. Ester Sri Astuti. Hadir pula jajaran pengurus PDIP seperti Yuke Yurike, Sri Rahayu, Ketua Megawati Institute Hilmar Farid, serta anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDIP.
Forum ini menjadi sinyal bahwa PDIP ingin tetap kritis tanpa meninggalkan semangat gotong royong. Bagi Hasto, kritik bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk memastikan ekonomi Indonesia tidak berjalan di atas optimisme semu.
“Kita semua ingin ekonomi tumbuh, tapi tumbuh di atas fondasi yang kokoh dan berpihak pada rakyat,” pungkasnya.