Loading
Harga Minyak Anjlok, Bursa Saham Global Menguat Usai AS dan Iran Sepakati Akhiri Konflik. (Ilustrasi AI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Harga minyak dunia bergerak turun tajam sementara pasar saham global menguat setelah Amerika Serikat dan Iran mengumumkan tercapainya kerangka kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang selama beberapa bulan terakhir mengguncang pasar energi internasional.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesepakatan tersebut akan membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz, salah satu urat nadi perdagangan energi dunia. Pernyataan itu langsung disambut positif oleh pelaku pasar yang selama ini dibayangi risiko gangguan pasokan minyak global.
Harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan perdagangan minyak internasional, tercatat turun lebih dari 5 persen hingga menyentuh level US$82,84 per barel. Pada saat yang sama, sejumlah indeks saham utama dunia mencatat penguatan signifikan.
Baca juga:
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.049 per Dolar AS, Geopolitik dan Harga Minyak Jadi Tekanan UtamaPakistan yang berperan sebagai mediator dalam proses negosiasi menyebutkan bahwa penandatanganan resmi kesepakatan dijadwalkan berlangsung pada 19 Juni mendatang di Swiss.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengonfirmasi bahwa kesepakatan dengan Amerika Serikat telah rampung. Di sisi lain, Trump melalui media sosialnya menulis singkat, “Biarkan minyak mengalir!”
Pasar Masih Menunggu Detail Kesepakatan
Meski pasar merespons positif, sejumlah analis mengingatkan bahwa minimnya rincian mengenai isi kesepakatan masih berpotensi memicu ketidakpastian.
Analis pasar energi dari Vanda Insights, Vandana Hari, menilai pelaku pasar masih membutuhkan kejelasan mengenai implementasi kesepakatan tersebut. Menurutnya, kondisi ini dapat memicu volatilitas harga minyak dalam beberapa hari hingga pekan ke depan.
“Kurangnya detail mengenai apa yang sebenarnya disepakati kemungkinan masih akan menimbulkan keresahan dan ketidakpastian di pasar,” ujarnya.
Selat Hormuz Jadi Kunci Stabilitas Pasar Energi
Selat Hormuz memiliki peran vital dalam rantai pasok energi global. Jalur laut ini menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan gas alam cair (LNG).
Sejak meningkatnya konflik pada akhir Februari, Iran sempat mengancam akan menyerang kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut. Ancaman itu membuat harga energi melonjak tajam dan memicu kekhawatiran di berbagai negara yang bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah.
Sebelum konflik pecah, harga minyak Brent berada di kisaran US$70 per barel. Namun selama perang berlangsung, harganya sempat melesat hingga mendekati US$120 per barel akibat gangguan pasokan dan meningkatnya risiko geopolitik.
Bursa Asia hingga Wall Street Menghijau
Sentimen positif dari kesepakatan AS-Iran langsung mendorong reli pasar saham global.
Di Asia, indeks Nikkei 225 Jepang ditutup naik 5 persen, sementara indeks Kospi Korea Selatan melonjak 5,2 persen. Penguatan ini terjadi karena negara-negara Asia termasuk yang paling terdampak oleh lonjakan biaya energi selama konflik berlangsung.
Di Eropa, indeks DAX Jerman naik 1,2 persen dan CAC 40 Prancis menguat 0,7 persen.
Sementara itu, pasar saham Amerika Serikat juga dibuka di zona hijau. Indeks Dow Jones menguat 1 persen, S&P 500 naik 1,6 persen, sedangkan Nasdaq yang didominasi saham teknologi melonjak 2,5 persen.
Namun berbeda dengan mayoritas pasar, indeks FTSE 100 London justru terkoreksi 0,4 persen. Penurunan tersebut dipicu melemahnya saham perusahaan energi besar seperti BP dan Shell yang tertekan akibat turunnya harga minyak.
Harapan Baru bagi Inflasi dan Suku Bunga
Meredanya konflik juga membawa harapan baru terhadap pengendalian inflasi global. Selama beberapa bulan terakhir, kenaikan harga energi telah mendorong biaya produksi dan konsumsi di berbagai negara.
Dengan potensi stabilisasi harga minyak, tekanan inflasi diperkirakan mulai berkurang. Kondisi ini dapat memberi ruang bagi bank sentral, termasuk Federal Reserve AS, untuk mempertahankan suku bunga tanpa perlu melakukan pengetatan tambahan.
Analis ekuitas senior Hargreaves Lansdown, Matt Britzman, menilai pasar saat ini berada pada jalur yang lebih positif.
Menurutnya, kesepakatan tersebut memberikan alasan yang kuat bagi investor untuk mengurangi premi risiko geopolitik yang selama ini membebani sentimen pasar.
Normalisasi Pasokan Minyak Tidak Terjadi Seketika
Meski demikian, para ahli memperingatkan bahwa distribusi energi melalui Selat Hormuz tidak akan langsung kembali normal.
Dilaporkan dan dikutip dari BBC, konsultan energi Andrew Lipow dari Lipow Oil Associates menjelaskan bahwa jalur pelayaran masih harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum aktivitas dapat berjalan seperti sediakala. Proses tersebut diperkirakan membutuhkan waktu beberapa minggu hingga enam bulan.
Selain itu, banyak kapal tanker yang saat ini masih mengantre untuk melintasi jalur tersebut. Proses pemulihan produksi minyak dan normalisasi aktivitas ekspor juga diperkirakan memerlukan waktu tambahan.
Pandangan serupa disampaikan pensiunan Laksamana Muda Angkatan Laut AS, Mark Montgomery. Ia menilai pemulihan penuh tidak bisa terjadi dalam waktu singkat.
Menurut Montgomery, diperlukan sekitar satu hingga satu setengah bulan untuk mengembalikan keseimbangan distribusi minyak dan kelancaran lalu lintas kapal di kawasan tersebut.
Meski tantangan masih ada, kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran telah menjadi sinyal positif yang mampu mengurangi ketegangan geopolitik serta mengembalikan optimisme investor terhadap prospek ekonomi global dan stabilitas pasar energi dunia.