SAL Rp300 Triliun Didorong Jadi ‘Mesin Sunyi‘ Ekonomi, Ini Strategi Purbaya


 SAL Rp300 Triliun Didorong Jadi ‘Mesin Sunyi‘ Ekonomi, Ini Strategi Purbaya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: YouTube Kemenkeu)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah tengah memainkan strategi senyap untuk mendorong pergerakan ekonomi nasional. Lewat penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp300 triliun di sektor perbankan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengandalkan mekanisme yang dikenal sebagai invisible hand atau “tangan tak terlihat”.

Alih-alih mengarahkan dana ke program tertentu, pemerintah justru memberi ruang bagi perbankan untuk menentukan sendiri ke mana dana tersebut disalurkan. Harapannya, bank akan memilih proyek-proyek yang produktif dan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi.

“Strateginya adalah memaksa invisible hand bekerja di sektor finansial. Dengan begitu, bank akan menyalurkan pembiayaan ke proyek yang bagus dan ekonomi bisa bergerak,” ujar Purbaya, Jumat (10/4/2026).

Bank Diberi Kebebasan, Ekonomi Didorong Bergerak

Pendekatan ini berbeda dari kebijakan fiskal pada umumnya. Pemerintah tidak menetapkan sektor prioritas secara kaku, melainkan membiarkan mekanisme pasar bekerja.

Menurut Purbaya, selama dana berada di sistem perbankan, secara alami akan mengalir ke berbagai sektor yang membutuhkan pembiayaan.

“Saya tidak terlalu mempersoalkan dana itu ditempatkan di mana. Secara teori, begitu masuk sistem, dana akan menyebar dan menggerakkan ekonomi,” jelasnya.

Dari Rp200 Triliun ke Rp300 Triliun

Sebelumnya, pemerintah telah menempatkan SAL sebesar Rp200 triliun. Kini, dengan tambahan Rp100 triliun, total dana yang digelontorkan mencapai Rp300 triliun.

Berbeda dengan tahap awal yang lebih terarah, tambahan dana terbaru ini bersifat lebih fleksibel. Bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Negara (Himbara) dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) diberi ruang lebih luas untuk menyalurkan pembiayaan ke berbagai sektor ekonomi.

Menjaga Likuiditas Jelang Lebaran

Penambahan dana SAL ini juga bukan tanpa alasan. Pemerintah ingin memastikan likuiditas perbankan tetap terjaga, terutama menjelang periode Lebaran yang biasanya diiringi lonjakan kebutuhan dana masyarakat.

Di sisi lain, kebijakan ini juga menjadi respons atas dinamika pasar, termasuk kenaikan imbal hasil (yield) obligasi yang menandakan adanya tekanan likuiditas di sektor perbankan dikutip Antara.

“Mesin Sunyi” Penggerak Ekonomi

Dengan strategi ini, pemerintah berharap perbankan dapat menjalankan fungsi intermediasi secara optimal—menghimpun dana dan menyalurkannya kembali ke sektor produktif.

Jika berjalan sesuai rencana, dana SAL tidak hanya berhenti sebagai angka di neraca, tetapi menjadi “mesin sunyi” yang menggerakkan roda ekonomi secara luas.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru