Rupiah Menguat ke Rp17.155 per Dolar AS, Terdorong Kenaikan Harga BBM


 Rupiah Menguat ke Rp17.155 per Dolar AS, Terdorong Kenaikan Harga BBM Ilustrasi Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS ANTARA FOTODh

 

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan pada awal pekan ini. Pada Senin pagi, rupiah tercatat naik 34 poin atau sekitar 0,20 persen ke level Rp17.155 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.189.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut penguatan rupiah didorong oleh kebijakan pemerintah terkait penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS menyusul langkah pemerintah menaikkan harga BBM non subsidi yang dinilai dapat mengurangi beban APBN,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

Kebijakan tersebut dilakukan oleh Pertamina yang menaikkan harga sejumlah BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex sejak 18 April 2026.

Penyesuaian harga ini dilakukan berdasarkan formula yang mengacu pada regulasi dari Kementerian ESDM, sejalan dengan dinamika harga energi global.

Meski rupiah menguat, tekanan dari faktor eksternal masih membayangi. Ketidakpastian di kawasan Selat Hormuz menjadi salah satu sentimen negatif bagi pasar.

Pernyataan dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang menegaskan pengawasan ketat di kawasan tersebut menambah kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasokan energi global.

Situasi ini membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dan mengambil posisi “wait and see”.

Investor juga menunggu perkembangan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang dikabarkan akan berlanjut dalam waktu dekat di Islamabad, Pakistan.

Selain itu, perhatian pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.

Lukman menilai, meski suku bunga kemungkinan besar akan dipertahankan, tidak menutup peluang adanya kenaikan untuk merespons pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

“Investor masih mencermati arah kebijakan BI dan perkembangan geopolitik global sebelum mengambil keputusan lebih lanjut,” jelasnya.

Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi kombinasi faktor domestik dan global, mulai dari kebijakan energi hingga dinamika geopolitik.

Kondisi ini membuat pasar keuangan bergerak dinamis dan membutuhkan strategi yang cermat dari para pelaku pasar.


Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru