IHSG Anjlok Hampir 5 Persen, Tekanan Rupiah dan Sentimen Global Bikin Investor Waspada


 IHSG Anjlok Hampir 5 Persen, Tekanan Rupiah dan Sentimen Global Bikin Investor Waspada Ilustrasi - Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (24/4/2026). IHSG pada Jumat (24/4) ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/bar

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pergerakan pasar saham Indonesia kembali berada dalam tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga 320,76 poin atau 4,77 persen ke posisi 6.402,56 pada perdagangan Senin (18/5/2026) pukul 11.04 WIB.

Pelemahan tajam ini dipicu kombinasi sentimen global dan domestik yang membuat pelaku pasar memilih bersikap hati-hati. Salah satu faktor yang paling menjadi sorotan adalah tekanan terhadap nilai tukar Rupiah yang terus melemah terhadap dolar

Amerika Serikat (AS).Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana atau yang akrab disapa Didit mengatakan, kondisi Rupiah yang berada di level Rp17.676 per dolar AS ikut membebani pergerakan IHSG.

Menurutnya, tekanan pasar tidak hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga dipengaruhi oleh koreksi mayoritas bursa saham global dan Asia yang sedang mengalami pelemahan.

“Tekanan terhadap Rupiah menjadi salah satu faktor yang cukup memengaruhi pergerakan IHSG saat ini,” ujarnya.

Selain itu, pasar juga merespons pengumuman dari penyedia indeks global MSCI dan FTSE yang masih membekukan sejumlah saham Indonesia serta mengeluarkan beberapa emiten dari daftar konstituennya.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan terjadinya arus dana asing keluar atau capital outflow dalam jumlah besar pada akhir Mei 2026.

Didit menilai, keputusan MSCI dan FTSE berpotensi membuat investor asing melakukan aksi jual, terutama pada saham-saham yang sebelumnya menjadi bagian dari indeks global tersebut.

Di sisi lain, situasi geopolitik dunia yang belum mereda turut memperburuk sentimen pasar. Konflik yang berkepanjangan mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia hingga berada di atas 100 dolar AS per barel.

Lonjakan harga minyak ini kembali memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan perlambatan ekonomi dunia. Investor pun cenderung mengurangi aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang seperti Indonesia.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai pelemahan IHSG terjadi akibat kombinasi sentimen global dan tekanan teknikal domestik.

Menurut Reydi, pasar masih dibayangi sikap risk-off investor akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, pelemahan Rupiah, hingga aksi jual asing yang kembali agresif pada saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps dikutip Antara.

Selain itu, efek lanjutan dari proses rebalancing MSCI juga masih membayangi perdagangan saham di Tanah Air.

Ia menambahkan, pengumuman FTSE terkait rencana penghapusan saham dengan kategori High Shareholding Concentration (HSC) semakin memperbesar kekhawatiran pasar terhadap potensi keluarnya dana asing dan passive funds dari Indonesia.

Tekanan tersebut membuat psikologis investor semakin sensitif terhadap sentimen negatif, sehingga pergerakan IHSG pun belum mampu keluar dari zona merah.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru