Loading
Kemenkeu: Penerimaan Bea dan Cukai Capai Rp123,8 Triliun hingga Mei 2026. (Ilustrasi AI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kinerja penerimaan negara dari sektor kepabeanan dan cukai mulai menunjukkan tren positif. Hingga akhir Mei 2026, realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai telah mencapai Rp123,8 triliun, atau sekitar 36,8 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN 2026.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa sektor ini mulai mengalami pemulihan setelah sebelumnya sempat mencatat pertumbuhan negatif. Perbaikan terlihat dari pertumbuhan penerimaan yang kini berangsur positif secara tahunan.
Dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Juni 2026 di Jakarta, Jumat (5/6), Purbaya menjelaskan bahwa pertumbuhan penerimaan kepabeanan dan cukai secara kumulatif hingga Mei mencapai 0,7 persen year-on-year (yoy).
Baca juga:
Purbaya Bantah Rumor Mundur dari Kursi Menkeu, Tegaskan Tetap Jalankan Arahan Presiden Prabowo“Dulu pertumbuhannya sempat negatif, lalu pada April sudah positif 0,6 persen dan Mei meningkat menjadi 0,7 persen. Kami melihat ke depan tren pertumbuhannya akan semakin baik,” ujarnya.
Cukai Masih Jadi Penyumbang Terbesar
Dari total penerimaan tersebut, sektor cukai memberikan kontribusi terbesar dengan nilai Rp90,4 triliun. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp90,3 triliun atau tumbuh sekitar 0,2 persen.
Kinerja cukai terutama didukung oleh meningkatnya produksi hasil tembakau sepanjang triwulan pertama 2026. Kondisi ini turut menjaga stabilitas penerimaan negara dari sektor cukai meskipun pertumbuhannya masih relatif terbatas.
Bea Masuk Melonjak Berkat Aktivitas Industri
Sementara itu, penerimaan dari bea masuk tercatat sebesar Rp21,5 triliun, meningkat 9,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp19,6 triliun.
Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya impor bahan baku dan bahan penolong yang tumbuh hingga 10,67 persen. Menurut Purbaya, tren tersebut menjadi sinyal positif bagi sektor industri nasional.
Ia menilai peningkatan impor bahan baku menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur dalam negeri sedang bergerak lebih aktif. Sebab, kebutuhan bahan baku biasanya meningkat ketika industri memperluas produksi.
“Pertumbuhan impor bahan baku dan bahan penolong menunjukkan aktivitas manufaktur sedang meningkat. Jika sektor industri tidak berkembang, impor untuk kebutuhan produksi juga tidak akan tumbuh. Ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap kuat,” jelasnya.
Bea Keluar Masih Tertekan
Di sisi lain, penerimaan dari bea keluar mencapai Rp11,9 triliun, turun 8,9 persen dibandingkan realisasi periode yang sama tahun lalu sebesar Rp13 triliun.Meski masih mengalami kontraksi, pemerintah melihat adanya tanda-tanda perbaikan. Salah satu faktor yang mendukung adalah penguatan harga crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah selama periode Maret hingga Mei 2026.
Kenaikan harga komoditas tersebut diperkirakan dapat membantu memperbaiki kinerja penerimaan bea keluar pada bulan-bulan berikutnya.
Dengan mulai membaiknya penerimaan kepabeanan dan cukai, pemerintah optimistis sektor perdagangan dan industri nasional akan terus memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026.