BEI Sebut Liquidity Provider Berhasil Tingkatkan Likuiditas dan Transaksi Saham


 BEI Sebut Liquidity Provider Berhasil Tingkatkan Likuiditas dan Transaksi Saham Pekerja mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/wsj.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Upaya PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk meningkatkan kualitas perdagangan saham mulai menunjukkan hasil. Program liquidity provider (LP) saham yang diterapkan sejak April 2026 tercatat mampu mendorong kenaikan nilai transaksi harian pada sejumlah saham yang menjadi objek kuotasi.

Program LP saham merupakan salah satu langkah strategis BEI untuk memperkuat likuiditas pasar, meningkatkan efisiensi perdagangan, serta menciptakan proses pembentukan harga yang lebih optimal bagi investor.

Pelaksana Tugas (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa keberadaan liquidity provider memungkinkan tersedianya kuotasi beli dan jual secara lebih konsisten di pasar. Kondisi ini memudahkan investor dalam melakukan transaksi sekaligus meningkatkan transparansi perdagangan.

“Implementasi ini diharapkan dapat mendukung perdagangan yang lebih efisien melalui penyediaan kuotasi beli dan jual yang lebih konsisten oleh LP saham, sehingga investor semakin mudah bertransaksi dan proses pembentukan harga menjadi lebih optimal,” kata Jeffrey dalam keterangannya di Jakarta, Senin (8/6/2026).

Menurut Jeffrey, minat anggota bursa terhadap program ini terus berkembang. Hingga saat ini terdapat dua perusahaan sekuritas yang telah resmi menjalankan fungsi liquidity provider, yakni PT Phintraco Sekuritas yang mulai beroperasi sejak 20 April 2026 dan PT Mandiri Sekuritas yang bergabung pada 4 Mei 2026.

Bertambahnya partisipasi anggota bursa dinilai menjadi sinyal positif bagi pengembangan pasar modal nasional. Hal tersebut menunjukkan semakin banyak pelaku industri yang melihat manfaat program LP saham dalam meningkatkan kualitas perdagangan.

“Kami melihat adanya komitmen bersama dari para pelaku industri untuk mendukung likuiditas dan kualitas perdagangan di bursa,” ujar Jeffrey.

Pada tahap awal implementasi, Phintraco Sekuritas melakukan kuotasi terhadap lima saham, yakni PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Trans Power Marine Tbk (TPMA), PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU), dan PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS).

Data BEI menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Dalam periode satu pekan sebelum dan sesudah implementasi LP saham, kelima emiten tersebut mencatat peningkatan rata-rata nilai transaksi harian dengan kenaikan berkisar antara 25,98 persen hingga mencapai 119,44 persen.

Peningkatan aktivitas perdagangan tersebut dinilai sebagai indikator bahwa kehadiran liquidity provider mampu memperkuat likuiditas saham di pasar.

“Kegiatan LP saham memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas perdagangan dan likuiditas saham, yang pada akhirnya turut memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia,” kata Jeffrey.

Sementara itu, Direktur Utama PT Phintraco Sekuritas, Ferawati, mengatakan partisipasi perusahaannya dalam program LP saham merupakan bagian dari komitmen untuk berperan lebih aktif dalam memperdalam pasar modal Indonesia.

Menurutnya, perkembangan program ini sejauh ini menunjukkan arah yang positif dalam memperkuat struktur perdagangan di Bursa Efek Indonesia.

Meski demikian, Ferawati menekankan bahwa keberhasilan program liquidity provider tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi yang erat antara bursa, anggota bursa, emiten, asosiasi, hingga investor agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas.

Ia menilai pemahaman mengenai fungsi strategis LP saham masih perlu terus ditingkatkan agar seluruh pelaku pasar dapat melihat manfaatnya secara lebih komprehensif.

Untuk mendukung program tersebut, Phintraco Sekuritas telah menyiapkan berbagai infrastruktur pendukung, mulai dari sistem perdagangan, kesiapan dealing team, hingga kerangka manajemen risiko yang dirancang untuk menjaga keberlangsungan aktivitas kuotasi.

“LP saham bukan sekadar menyediakan kuotasi beli dan jual. Program ini merupakan bagian dari upaya membangun pasar yang lebih likuid, efisien, dan kredibel,” ujar Ferawati dikutip Antara.

Ia menambahkan, tantangan terbesar dalam menjalankan fungsi liquidity provider adalah menjaga konsistensi kuotasi di tengah dinamika pasar yang berubah cepat dan tingkat volatilitas yang tinggi.

Karena itu, aktivitas LP membutuhkan disiplin perdagangan, dukungan teknologi yang memadai, serta pengelolaan risiko yang kuat agar likuiditas yang tercipta tetap sehat dan berkelanjutan.

Ke depan, prospek program LP saham dinilai cukup menjanjikan seiring fokus BEI dan regulator dalam memperdalam pasar modal Indonesia. Kolaborasi seluruh pemangku kepentingan diyakini akan menjadi kunci untuk mempercepat efektivitas program ini dan meningkatkan daya tarik pasar modal nasional di mata investor.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru