Tata Kelola Diakui Dunia, INA Raih Peringkat Kedua Sovereign Wealth Fund Asia


 Tata Kelola Diakui Dunia, INA Raih Peringkat Kedua Sovereign Wealth Fund Asia Logo Indonesia Investment Authority (INA) di kantor INA, Jakarta, Rabu (29/7/2026). ANTARA/Shofi Ayudiana

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Indonesia Investment Authority (INA) kembali mencatat prestasi di tingkat internasional. Lembaga pengelola investasi negara (sovereign wealth fund/SWF) milik Indonesia ini berhasil menempati peringkat kedua di Asia dalam aspek tata kelola, keberlanjutan, dan ketahanan kelembagaan berdasarkan Governance, Sustainability and Resilience (GSR) Scoreboard 2026 yang diterbitkan Global SWF.

Dalam penilaian tersebut, INA meraih skor keseluruhan 92 persen, terdiri atas nilai Governance sebesar 9 dari 10 poin, Sustainability 9 dari 10 poin, dan Resilience 5 dari 5 poin. Posisi tersebut hanya berada satu tingkat di bawah Temasek Holdings dari Singapura.

Ketua Dewan Direktur INA, Oki Ramadhana, mengatakan pencapaian ini menjadi modal penting di tengah kondisi ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian. Menurutnya, investor kini semakin menaruh perhatian pada kualitas tata kelola dan kredibilitas sebuah lembaga sebelum memutuskan menanamkan modal.

"Di tengah ketidakpastian global, dinamika geopolitik, dan perubahan lingkungan ekonomi, aspek Governance, Sustainability, dan Resilience menjadi faktor yang sangat penting bagi institusi mana pun untuk menarik investasi. Terlebih bagi INA yang memiliki mandat menghadirkan investasi domestik maupun asing ke Indonesia," ujar Oki dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (28/7/2026).

Investor Kini Lebih Mengutamakan Tata Kelola

Oki menjelaskan, tren investasi global telah berubah. Investor tidak lagi hanya melihat besarnya aset yang dikelola atau nilai portofolio investasi sebuah sovereign wealth fund, tetapi juga memperhatikan kualitas tata kelola, transparansi, disiplin investasi, hingga kemampuan institusi menghadapi berbagai tantangan.

Menurutnya, GSR Scoreboard menjadi salah satu acuan penting karena menilai sekitar 25 indikator yang mencakup tata kelola, keberlanjutan, dan ketahanan kelembagaan.

"Yang paling utama adalah governance. Mitra investasi kami di berbagai negara menjadikan tata kelola sebagai pertimbangan utama dalam memilih partner investasi di Indonesia," kata Oki dikutip Antara.

Ia optimistis pencapaian tersebut akan semakin meningkatkan kepercayaan investor internasional terhadap Indonesia. Reputasi kelembagaan yang semakin kuat diyakini mampu membuka peluang investasi baru yang pada akhirnya memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Skor INA Terus Melonjak Sejak Berdiri

Global SWF merupakan lembaga riset independen yang memantau sekitar 200 sovereign wealth fund dan public pension fund di berbagai negara. Penilaian dilakukan berdasarkan informasi yang tersedia untuk publik terkait praktik tata kelola, keberlanjutan, serta ketahanan kelembagaan.

Sejak resmi berdiri pada 2021, performa INA dalam GSR Scoreboard menunjukkan peningkatan yang konsisten. Skornya melonjak dari 24 persen pada 2021, menjadi 52 persen pada 2022, 56 persen pada 2023, 60 persen pada 2024, 68 persen pada 2025, hingga mencapai 92 persen pada 2026.

Lonjakan tersebut mencerminkan penguatan tata kelola dan kapasitas kelembagaan INA yang semakin diakui di tingkat global. Capaian ini juga menjadi sinyal positif bagi investor internasional bahwa Indonesia terus memperkuat iklim investasi melalui institusi yang transparan, profesional, dan berstandar internasional.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru