Jumat, 02 Oktober 2026

Kemenhub Periksa Lima Bandara Terdampak Gempa NTT, Keselamatan Penerbangan Jadi Prioritas


 Kemenhub Periksa Lima Bandara Terdampak Gempa NTT, Keselamatan Penerbangan Jadi Prioritas Arsip foto - Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F. Laisa. ANTARA/Harianto

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bergerak cepat memastikan keselamatan penerbangan setelah gempa mengguncang sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (16/8/2026).

Pemeriksaan difokuskan pada kondisi fasilitas bandar udara, pelayanan navigasi penerbangan, personel, hingga kesiapan operasional di wilayah yang terdampak gempa.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, mengatakan pemeriksaan dilakukan sebagai bagian dari langkah mitigasi untuk memastikan seluruh fasilitas penerbangan tetap aman digunakan.

“Ditjen Perhubungan Udara bersama penyelenggara bandar udara dan pelayanan navigasi penerbangan terus melakukan pemeriksaan serta pemantauan kondisi fasilitas, personel, dan operasional penerbangan di wilayah terdampak,” kata Lukman dalam keterangan di Jakarta, Minggu (16/8/2026).

Dua Gempa Utama Guncang Wilayah NTT

Berdasarkan informasi Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) BMKG, gempa utama tercatat bermagnitudo 7,0 pada pukul 05.58 WITA.

Pusat gempa berada sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, dengan kedalaman 10 kilometer.

Gempa berikutnya dengan magnitudo 6,2 tercatat pada pukul 06.13 WITA. Pusat gempa berada di laut sekitar 46 kilometer timur laut Labuan Bajo dengan kedalaman 10 kilometer.

Guncangan tersebut berdampak pada sejumlah fasilitas transportasi udara di wilayah Flores dan sekitarnya.

Lima Bandara Dilaporkan Terdampak

Kemenhub mencatat sedikitnya lima bandar udara terdampak gempa. Kelima bandara tersebut yakni:

  • Bandar Udara Komodo, Labuan Bajo

  • Bandar Udara H. Hasan Aroeboesman, Ende

  • Bandar Udara Umbu Mehang Kunda, Waingapu

  • Bandar Udara Frans Sales Lega, Ruteng

  • Bandar Udara Soa, Bajawa

Kerusakan yang dilaporkan bervariasi, mulai dari retakan hingga kerusakan pada sejumlah bangunan dan fasilitas pendukung bandara.

Fasilitas yang terdampak antara lain bangunan terminal, gedung administrasi, gedung Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK), serta sejumlah fasilitas pendukung lainnya.

Perhatian khusus diberikan kepada Bandara Soa di Bajawa. Berdasarkan laporan awal, terdapat kerusakan sedang pada runway serta sejumlah bangunan dan fasilitas pendukung. Retakan baru juga ditemukan di beberapa titik.

Kondisi tersebut masih terus diperiksa untuk memastikan tingkat kerusakan dan keamanan fasilitas sebelum operasional penerbangan dinyatakan sepenuhnya aman.

Layanan Navigasi Penerbangan Juga Diperiksa

Tidak hanya fasilitas bandara, Kemenhub juga melakukan pemantauan terhadap pelayanan navigasi penerbangan di sejumlah lokasi.

Beberapa unit pelayanan navigasi yang terdampak meliputi Cabang Pembantu Labuan Bajo, Cabang Pembantu Ende, Unit Maumere, Unit Bajawa, dan Unit Ruteng.

Kabar baiknya, seluruh personel penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan di lokasi terdampak dilaporkan dalam kondisi selamat.

Di beberapa lokasi yang mengalami kerusakan pada gedung tower, pelayanan navigasi untuk sementara dialihkan ke lokasi yang dinilai lebih aman.

Kemenhub juga menyiapkan contingency plan atau rencana kontingensi agar pelayanan navigasi penerbangan tetap berjalan sekaligus menjaga standar keselamatan.

“Ditjen Perhubungan Udara menempatkan aspek keselamatan penerbangan sebagai prioritas utama,” tegas Lukman.

Kesiapan Bandara untuk Pengiriman Bantuan

Selain memastikan keselamatan penerbangan, Kemenhub juga mulai mempersiapkan dukungan transportasi udara untuk kebutuhan penanganan pascagempa.

Pemeriksaan terhadap infrastruktur dan fasilitas bandar udara terus dilakukan, termasuk untuk memastikan bandara dapat mendukung pengiriman bantuan kepada masyarakat yang terdampak.

Kesiapan tersebut dilakukan melalui skema Get Airport Ready for Disaster (GARD).

Skema ini menjadi bagian penting dalam memastikan bandar udara memiliki kesiapan menghadapi kondisi darurat, termasuk ketika dibutuhkan untuk mendukung distribusi bantuan dan kegiatan kemanusiaan.

Penumpang Diminta Mengikuti Informasi Resmi

Kemenhub mengimbau masyarakat pengguna jasa transportasi udara di wilayah terdampak agar tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terkonfirmasi.

Penumpang diminta mengikuti perkembangan terbaru melalui pengelola bandar udara dan maskapai penerbangan.

Pasalnya, kondisi operasional penerbangan dapat berubah mengikuti hasil pemeriksaan fasilitas, kondisi cuaca, keamanan runway, serta kesiapan pelayanan navigasi.

Lukman menegaskan Ditjen Perhubungan Udara akan terus memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait.

“Informasi mengenai kondisi bandar udara, pelayanan navigasi penerbangan, serta perkembangan operasional penerbangan akan disampaikan lebih lanjut setelah hasil pemeriksaan dan asesmen terbaru diterima,” ujarnya dikutip Antara.

Kementerian Perhubungan juga menyampaikan simpati dan keprihatinan mendalam atas gempa bumi yang mengguncang sejumlah wilayah di Kepulauan Flores, Nusa Tenggara Timur.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru