Pjs Gubernur BI Destry Damayanti. (Fot: Dok. Setpres)
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Pasar keuangan global masih menghadapi ketidakpastian. Salah satu tantangan yang menjadi perhatian Bank Indonesia (BI) adalah kemungkinan bertahannya suku bunga Amerika Serikat (AS) pada level tinggi dalam waktu yang lebih lama atau dikenal dengan istilah higher for longer.
Pejabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti mengatakan kondisi tersebut akan menjadi salah satu faktor yang membayangi perekonomian dan pasar keuangan global hingga beberapa waktu ke depan.
“Untuk global, kita akan menghadapi situasi yang mungkin akan cukup lama dengan ketidakpastian, sehingga kita memasuki suatu era yang dinamakan higher for longer,” kata Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Mengapa Suku Bunga AS Diperkirakan Tetap Tinggi?
Menurut Destry, tekanan terhadap pasar keuangan global tidak hanya berasal dari kebijakan suku bunga AS. Inflasi yang masih tinggi, kenaikan harga minyak, serta kebutuhan pembiayaan defisit anggaran Pemerintah AS turut menjadi faktor penting.
Kebutuhan pembiayaan tersebut mendorong penerbitan obligasi Pemerintah AS dalam jumlah besar. Kondisi ini berpotensi menjaga imbal hasil atau yield US Treasury tetap tinggi.
“Sehingga itu semua akan menciptakan situasi, hampir semua, apakah itu bond yield, apakah itu interest rate, mereka (AS, Red) akan berada dalam posisi yang tinggi,” ujar Destry.
Situasi tersebut juga menjadi salah satu alasan BI memperkirakan indeks dolar AS terhadap sejumlah mata uang negara maju atau DXY masih akan berada pada level yang kuat.
Bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, kondisi dolar AS yang kuat perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi arus modal, nilai tukar, serta stabilitas pasar keuangan domestik.
Ekonomi Global Masih Belum Kuat
Di tengah tekanan tersebut, BI melihat prospek pertumbuhan ekonomi global masih belum cukup kuat.
Destry mencatat pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diperkirakan berada di sekitar 3,0 persen. Pada saat yang sama, tekanan inflasi global diperkirakan masih tinggi, sekitar 4,5 persen.
Kondisi ini membuat ruang bagi bank sentral di berbagai negara untuk melonggarkan kebijakan moneter menjadi lebih terbatas.
Bahkan, BI memperkirakan suku bunga kebijakan AS atau Fed Funds Rate (FFR) berpotensi meningkat pada triwulan IV 2026.
“Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 belum kuat yang diprakirakan sekitar 3,0 persen,” kata Destry dikutip Antara.
Perang Timur Tengah Ikut Mendorong Harga Minyak
Ketidakpastian global juga diperkuat oleh perkembangan geopolitik.
BI mencermati berlanjutnya intensitas perang di Timur Tengah yang kembali mendorong kenaikan harga minyak dan sejumlah komoditas dunia.
Kenaikan harga energi dapat memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi global. Jika tekanan inflasi bertahan, bank sentral akan menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara pengendalian harga dan upaya mendukung pertumbuhan ekonomi.
Dengan demikian, arah kebijakan suku bunga global tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekonomi, tetapi juga perkembangan geopolitik dan harga komoditas.
Investor Masih Selektif di Negara Berkembang
Kombinasi suku bunga tinggi, yield obligasi AS yang meningkat, dolar AS yang kuat, serta ketidakpastian geopolitik membuat investor global cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dana di negara-negara emerging markets.
BI mencatat ketidakpastian di pasar keuangan global masih menahan preferensi investor terhadap investasi portofolio di negara berkembang.
Kondisi tersebut turut menjaga dolar AS tetap kuat, baik terhadap mata uang negara maju maupun negara berkembang.
Bagi Indonesia, situasi ini perlu diantisipasi karena perubahan arus modal global dapat memberikan tekanan terhadap pasar keuangan dan nilai tukar rupiah.
BI Siapkan Respons Kebijakan
Menghadapi situasi tersebut, BI memastikan terus melakukan asesmen terhadap perkembangan ekonomi global dan domestik, setidaknya hingga akhir 2026.
Menurut BI, kondisi global yang penuh ketidakpastian membutuhkan koordinasi kebijakan yang semakin kuat antara pemerintah dan bank sentral.
Penguatan sinergi kebijakan fiskal dan moneter diperlukan untuk memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas perekonomian, sekaligus tetap mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan kata lain, era higher for longer bukan hanya persoalan suku bunga AS. Dampaknya dapat merambat ke pasar obligasi, nilai tukar, arus modal, harga komoditas, hingga prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Karena itu, perkembangan kebijakan The Fed, inflasi AS, harga minyak, yield US Treasury, serta kondisi geopolitik global akan menjadi sejumlah faktor penting yang perlu terus dicermati hingga akhir tahun.