IHSG Menguat Usai The Fed Tahan Suku Bunga, Sentimen Pasar Berbalik ‘Risk On‘


 IHSG Menguat Usai The Fed Tahan Suku Bunga, Sentimen Pasar Berbalik ‘Risk On‘ IHSG menguat pagi ini (Net)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada Kamis (30/7/2026). Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) didorong oleh kembali munculnya sentimen risk on, setelah bank sentral Amerika Serikat (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya sesuai ekspektasi pasar.

Saat pembukaan perdagangan, IHSG naik 18,89 poin atau 0,31 persen ke level 6.110,28. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 turut menguat 2,52 poin atau 0,42 persen ke posisi 609,04.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menilai pergerakan IHSG masih dipengaruhi kombinasi sentimen global, kondisi domestik, serta faktor teknikal.

"IHSG diperkirakan akan menguji level psikologis 6.000 pada perdagangan Kamis," ujarnya.

Keputusan The Fed Redakan Kekhawatiran Investor

Dari pasar global, perhatian investor tertuju pada hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC). The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5–3,75 persen, sesuai dengan perkiraan pelaku pasar.

Keputusan tersebut memberikan ruang bagi investor untuk kembali masuk ke aset berisiko karena kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga tambahan mulai mereda.

Meski demikian, keputusan itu tidak sepenuhnya bulat. Tiga pejabat The Fed memilih mendukung kebijakan moneter yang lebih ketat sebagai respons terhadap tekanan inflasi, terutama yang dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia.

Di sisi lain, pasar obligasi AS menilai The Fed berpotensi terlambat dalam mengendalikan inflasi. Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bank sentral siap mengambil langkah yang diperlukan apabila kondisi berubah. Namun, pernyataan tersebut belum mampu mengangkat kepercayaan pasar.

Harga Minyak Melonjak karena Ketegangan Timur Tengah

Sentimen global juga dipengaruhi melonjaknya harga minyak mentah.

Minyak Brent ditutup naik lebih dari 7 persen hingga sekitar 90 dolar AS per barel, sedangkan minyak WTI menguat lebih dari 6 persen ke kisaran 84 dolar AS per barel.

Kenaikan ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negaranya akan memberikan respons keras terhadap dugaan serangan terhadap pasukan AS di Timur Tengah.

BEI Pertahankan Komposisi IDXBUMN20

Dari dalam negeri, Bursa Efek Indonesia mengumumkan hasil evaluasi indeks IDXBUMN20 yang berlaku mulai 5 Agustus 2026 hingga 2 Februari 2027.

Dalam evaluasi tersebut tidak ada perubahan komposisi saham. Seluruh 20 emiten tetap menjadi anggota indeks, meski BEI melakukan penyesuaian jumlah saham dan bobot masing-masing emiten dalam perhitungan indeks.

Reformasi Pasar Modal Terus Dipercepat

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self Regulatory Organization (SRO) terus memperkuat reformasi pasar modal Indonesia menjelang peninjauan indeks MSCI pada November 2026.

Langkah tersebut dilakukan melalui komunikasi intensif dengan penyedia indeks global serta percepatan berbagai agenda reformasi guna meningkatkan daya saing pasar modal Indonesia.

Selain itu, OJK menargetkan Peraturan OJK (POJK) mengenai Demutualisasi Bursa Efek Indonesia dapat diterbitkan pada pekan kedua September 2026. Regulasi tersebut merupakan aturan turunan dari Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 yang saat ini masih dalam tahap penyusunan bersama para pemangku kepentingan.

Bursa Global Bergerak Beragam

Pada perdagangan sebelumnya, bursa saham Eropa ditutup bervariasi. Indeks Euro Stoxx 50 turun 0,70 persen, DAX Jerman melemah tipis 0,01 persen, dan CAC 40 Prancis terkoreksi 0,60 persen. Sebaliknya, FTSE 100 Inggris menguat 0,34 persen.

Wall Street juga ditutup di zona merah. Indeks S&P 500 dan Dow Jones masing-masing turun 2,19 persen, sedangkan Nasdaq Composite melemah 2,06 persen dilansir Antara.

Di kawasan Asia pada perdagangan pagi ini, indeks Nikkei Jepang melonjak 2,15 persen. Sementara itu, Shanghai Composite, Hang Seng, dan Strait Times masih bergerak melemah.

Pelaku pasar kini akan terus mencermati perkembangan kebijakan moneter global, pergerakan harga minyak, serta berbagai agenda reformasi pasar modal Indonesia yang diperkirakan menjadi penentu arah IHSG dalam beberapa waktu ke depan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru