Minggu, 04 Oktober 2026

Gabin Lido dan Kue Keminting: Resep Harmoni Tionghoa–Banjar di Samarinda


 Gabin Lido dan Kue Keminting: Resep Harmoni Tionghoa–Banjar di Samarinda Kisah harmoni Tionghoa Kalimantan Timur terpotret lewat sejarah Samarinda, Gabin Lido, dan kue keminting—warisan toleransi yang hidup dari dapur hingga politik. (Net)

GLOBAL HARMONY | CULTURE CONNECT

HIDUP akan selalu terasa sempit bila dibingkai oleh pagar etnis yang kaku. Imajinasi tentang dunia yang terbelah oleh prasangka itu terasa begitu dekat, terutama setelah menonton Pengepungan di Bukit Duri, film yang dengan getir memotret bagaimana ego etnosentris dapat berujung pada kekerasan.

Pikiran itu mengalir saat menapaki Jalan Yos Sudarso, Samarinda—jalur nadi di depan pelabuhan terbesar Kota Tepian. Dari sana, langkah berbelok menuju Citra Niaga, ruang publik yang hari ini kembali ramai, namun menyimpan lapisan memori panjang tentang kehidupan lintas etnis.

Belakangan, Wali Kota Andi Harun mewacanakan kawasan ini sebagai Little Chinatown. Gagasan itu terasa seperti menghidupkan kembali denyut lama. Jauh sebelum pusat perniagaan modern berdiri, Citra Niaga adalah jantung Pecinan Samarinda—ruang di mana perdagangan, kebudayaan, dan perjumpaan manusia berlangsung tanpa sekat mencurigakan.

Tak jauh dari sana, aroma hio menyapa pelan. Kelenteng Thien Le Khong berdiri tegak dengan warna merah dan emas yang menyala. Ia bukan simbol dominasi, melainkan penanda keberlanjutan. Sebuah monumen hidup tentang bagaimana etnis Tionghoa dan warga lokal—Banjar, Kutai, Bugis—menjalani keseharian dalam harmoni selama berabad-abad.

Di Samarinda, kelenteng tak bersembunyi di gang sempit. Ia hadir di jalan protokol, menjadi bagian utuh dari lanskap kota yang majemuk.

Harmoni yang Tumbuh dari Sejarah

“Ketika membahas Tionghoa di Indonesia, ingatan publik kerap berhenti pada luka sejarah,” ujar Muhammad Sarip, sejarawan Kalimantan Timur. Baginya, sejarah memang tak bisa dihapus—namun juga tak seharusnya menjebak kita dalam ratapan.

Tragedi Mei 1998 adalah luka nasional. Di banyak kota besar Jawa, etnis Tionghoa menjadi sasaran kekerasan. Namun Kalimantan Timur menghadirkan anomali yang menenangkan. Di Samarinda dan Balikpapan, tak tercatat penjarahan massal, pembakaran toko, apalagi kekerasan seksual berbasis ras. Properti dan warga Tionghoa relatif aman.

Menurut Sarip, ini bukan kebetulan. Relasi lintas etnis di Kaltim telah lama terbangun secara kooperatif. Konflik tentu ada, sebagaimana lumrah dalam interaksi manusia, tetapi tak pernah bermetamorfosis menjadi amuk rasial.

Dari Lo A Po hingga Kampung HBS

Benih toleransi itu sudah disemai jauh sebelum republik berdiri. Pada era Hindia Belanda, tokoh Tionghoa Lo A Po mengelola tambang batu bara di Loa Bukit—di atas lahan sewaan keluarga Kesultanan Kutai Kartanegara. Hubungan mereka melampaui urusan kontrak: ikatan politik dan kultural diperkuat melalui pernikahan antarkeluarga.

Warisan akulturasi itu masih bisa dilihat hari ini lewat Villa Annie di Jalan Yos Sudarso—rumah klasik berusia lebih dari satu abad, saksi bisu kemesraan relasi Tionghoa dan aristokrat lokal.

Memang, kolonialisme membawa stratifikasi sosial yang memicu kecemburuan. Namun warga lokal Samarinda meresponsnya tanpa kekerasan. Orang Banjar mendirikan kongsi dagang tandingan, Handel-maatschaappij Borneo Samarinda (HBS)—cikal bakal Kampung HBS yang kelak menjelma Pasar Pagi, pusat ekonomi rakyat.

Kompetisi terjadi, tetapi dalam koridor kesatria. Menariknya, salah satu pendiri HBS adalah Omar Barack—kakek dari Reino Barack. Persaingan berlangsung di meja dagang, bukan di jalanan dengan parang.

Keteladanan di Pendidikan, Kemanusiaan, dan Politik

Harmoni itu berlanjut pada masa Revolusi. Tan Tjong Tjioe tampil sebagai relawan Palang Merah dan memimpin PMI Samarinda (1951–1975) serta PMI Kaltim (1975–1986). Di pendidikan, Dorinawati Samalo menghibahkan rumahnya sebagai kampus pertama Universitas Mulawarman.

Di panggung politik, Tan Tjong Tjioe dipercaya menjadi utusan Kaltim di Konstituante hasil Pemilu 1955—diusung Partai Nasional Indonesia, bukan partai etnis. Sebuah fakta yang meruntuhkan narasi rasisme.

Gabin Lido dan Kue Keminting: Harmoni di Meja Dapur

Ketegangan rasial memang menguat pada era Orde Baru. Namun di Samarinda, propaganda tak sepenuhnya merusak tatanan sosial. Contoh paling membumi justru hadir dari dapur dan etalase toko.

Kue keminting—camilan khas Samarinda berbahan sagu—diproduksi massal oleh ibu-ibu Banjar di Karang Mumus. Tanpa merek, kue-kue ini didistribusikan ke toko legendaris milik warga Tionghoa: Gabin Lido.

Toko ini dikenal dengan biskuit gabin produksinya sendiri, namun justru menjadi distributor utama keminting ke seluruh pelosok kota. Tak ada klaim resep, tak ada rebranding sepihak. Yang ada adalah kepercayaan. Orang Samarinda tahu: mencari keminting enak, ya ke Gabin Lido.

Di balik renyah dan manisnya kudapan itu, tersimpan nilai yang lebih dalam—saling percaya yang tak runtuh oleh politik.

Bunga Mei dan Jeruk Kingkit

Bagi generasi tua Tionghoa Samarinda, Imlek bukan sekadar barongsai dan angpao. Esensinya hadir dalam bunga mei dan jeruk kingkit di ruang tamu. Riset Fransisca Haryanto dan Elisa Christiana (Jurnal Century, 2016) mencatat bagaimana tradisi ini dipertahankan bahkan saat budaya Tiongkok ditekan.

Bunga mei melambangkan keteguhan—mekar di musim dingin sebagai janji musim semi. Jeruk (jú) dipilih karena bunyinya dekat dengan jí, bermakna mujur. Di balik simbol-simbol sederhana itu, tersimpan ketahanan identitas.

Warisan yang Lebih Berharga

Sore merayap di tepian Sungai Mahakam. Dari narasi panjang ini, satu hal menjadi jelas: kedamaian di Kalimantan Timur bukan kebetulan. Ia lahir dari praktik keseharian—dari relasi bisnis yang adil, politik yang inklusif, hingga kepercayaan di meja dapur.

Revitalisasi Pecinan mungkin mengubah wajah kota. Namun persaudaraan antara pembuat kue keminting di Karang Mumus dan penjaga toko Gabin Lido di tepian Mahakam adalah warisan yang jauh lebih berharga. Ia mengajarkan cara menjadi manusia yang memanusiakan sesama—melampaui asal-usul nenek moyang.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Global Harmony Terbaru