Sabtu, 03 Oktober 2026

G7 Sepakat Lepas 100 Juta Barel Cadangan Minyak Darurat, Pasar Energi Global Jadi Sorotan


 G7 Sepakat Lepas 100 Juta Barel Cadangan Minyak Darurat, Pasar Energi Global Jadi Sorotan Pertemuan virtual para pemimpin G7 pada Jumat (2/10/2026). (Ilustrasi AI)

JENEWA, ARAHKITA.COM - Negara-negara anggota kelompok G7 menyepakati langkah bersama untuk melepas hingga 100 juta barel minyak dan produk bahan bakar dari cadangan darurat. Kebijakan tersebut ditempuh untuk meredam gejolak harga energi sekaligus menjaga ketersediaan pasokan di tengah tekanan pasar minyak dunia.

Kesepakatan itu diambil dalam pertemuan virtual para pemimpin G7 pada Jumat (2/10/2026). Pelaksanaannya akan dikoordinasikan melalui Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) dan dimulai segera, dengan periode pelepasan selama empat bulan.

Salah satu prioritas utama dalam kebijakan ini adalah pasokan solar atau diesel. Negara-negara anggota dan mitra G7 akan mempercepat pelepasan stok diesel dalam jumlah besar pada 20 hari pertama pelaksanaan program.

Langkah tersebut menjadi perhatian karena pasar bahan bakar olahan, khususnya diesel, tengah menghadapi tekanan pasokan dan kenaikan harga. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya transportasi, logistik, produksi industri, hingga harga berbagai kebutuhan masyarakat.

Dalam pernyataan bersama yang dirilis setelah pertemuan, para pemimpin G7 juga meminta IEA mengkaji kemungkinan pelepasan tambahan stok diesel apabila situasi pasar masih membutuhkan intervensi.

IEA akan memantau pelaksanaan kebijakan tersebut sekaligus mengevaluasi dampaknya terhadap keamanan pasokan dan stabilitas pasar energi. Laporan tindak lanjut diminta disampaikan dalam waktu kurang dari 20 hari, termasuk rekomendasi untuk memperkuat respons terhadap gejolak energi berikutnya.

G7 Hindari Pembatasan Ekspor Energi

Selain mengandalkan cadangan darurat, G7 juga menekankan pentingnya menjaga kelancaran perdagangan energi antarnegara.

Para pemimpin kelompok tersebut menegaskan komitmen untuk tidak memberlakukan pembatasan ekspor energi maupun produk energi di antara negara anggota. Mereka juga menyerukan kepada seluruh negara produsen agar menghindari kebijakan larangan ekspor yang berpotensi memperburuk ketegangan di pasar global.

Komitmen ini penting karena gangguan pasokan tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan minyak mentah, tetapi juga distribusi produk hasil pengolahan seperti diesel dan bahan bakar lainnya.

G7 turut menyepakati koordinasi jadwal pemeliharaan kilang minyak di negara-negara anggotanya. Pengaturan tersebut bertujuan mencegah sejumlah kilang menghentikan operasional secara bersamaan sehingga kapasitas produksi bahan bakar tidak mengalami penurunan besar dalam waktu yang sama.

Jika memungkinkan, tingkat pemanfaatan kilang juga akan ditingkatkan untuk sementara guna mendukung ketersediaan produk energi di pasar.

Selat Hormuz Menjadi Perhatian

Persoalan keamanan jalur perdagangan energi internasional turut menjadi bagian penting dalam pembahasan para pemimpin G7.

Mereka menyerukan pemulihan segera dan penuh atas hak navigasi di Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut memiliki peran strategis dalam perdagangan minyak dunia sehingga gangguan terhadap aktivitas pelayaran dapat memengaruhi kelancaran distribusi energi internasional.

G7 menyatakan akan meningkatkan upaya bersama untuk memastikan kebebasan navigasi dan kelancaran perdagangan melalui jalur tersebut.

Di sisi lain, kelompok negara maju itu menegaskan tetap mempertahankan sanksi terhadap Rusia. Mereka juga akan bekerja sama dengan IEA dan mitra internasional lainnya untuk mencegah dampak lanjutan terhadap pasar bahan bakar, gas, serta komoditas lainnya.

Uni Eropa Sambut Langkah G7

Kesepakatan G7 mendapat sambutan dari Presiden Dewan Eropa Antonio Costa. Ia menyatakan dukungan terhadap langkah terkoordinasi untuk menjaga stabilitas pasokan energi dan mengurangi tekanan harga di pasar internasional.

Melalui unggahan di akun media sosial X, Costa menyambut keputusan pelepasan cadangan energi yang akan berlangsung selama empat bulan, dengan prioritas awal pada penyediaan stok diesel oleh negara anggota dan mitra G7.

Costa juga menyoroti komitmen untuk menjaga perdagangan energi tetap terbuka serta menghindari pembatasan ekspor yang dapat memperburuk situasi pasar.

Menurut dia, dampak kenaikan harga energi terhadap masyarakat, pelaku usaha, dan sektor industri akan menjadi salah satu agenda pembahasan para pemimpin Uni Eropa dalam pertemuan Dewan Eropa pada 15–16 Oktober 2026.

Kenaikan harga energi menjadi perhatian karena dapat menambah beban rumah tangga sekaligus meningkatkan biaya operasional perusahaan. Industri yang bergantung pada bahan bakar untuk kegiatan produksi dan distribusi termasuk sektor yang rentan terkena dampaknya.

Transisi Energi Kembali Mengemuka

Di tengah upaya jangka pendek untuk menjaga pasokan minyak dan bahan bakar, Costa juga mengingatkan pentingnya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Menurut dia, tekanan yang terjadi di pasar energi global menjadi pengingat bahwa negara-negara Eropa perlu mempercepat pengembangan sumber energi domestik.

Diversifikasi energi dinilai penting untuk memperkuat ketahanan pasokan dan mengurangi kerentanan terhadap gangguan geopolitik maupun perubahan harga komoditas internasional.

Dengan demikian, pelepasan cadangan darurat bukan satu-satunya jawaban atas persoalan energi. Kebijakan tersebut menjadi instrumen penanganan jangka pendek, sementara penguatan sumber energi alternatif dan peningkatan ketahanan sistem energi tetap menjadi agenda jangka panjang.

Kesepakatan G7 kali ini memperlihatkan bagaimana negara-negara ekonomi utama berupaya menggabungkan intervensi pasokan, koordinasi perdagangan, optimalisasi kilang, dan kerja sama internasional untuk menghadapi ketidakpastian pasar energi.

Efektivitas kebijakan tersebut selanjutnya akan sangat bergantung pada kecepatan distribusi cadangan, kemampuan kilang memenuhi kebutuhan bahan bakar, serta perkembangan situasi keamanan jalur perdagangan energi dunia.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru