Nyepi 2026 Jadi Momentum Harmoni, Menag Ajak Rawat Persaudaraan di Tengah Keberagaman


 Nyepi 2026 Jadi Momentum Harmoni, Menag Ajak Rawat Persaudaraan di Tengah Keberagaman Menteri Agama Nasaruddin Umar. (Humas Kemenag)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 bukan sekadar tradisi keagamaan bagi umat Hindu. Lebih dari itu, momen ini dinilai sebagai waktu yang tepat untuk memperkuat persaudaraan dan merawat harmoni di tengah keberagaman Indonesia.

Menteri Agama, Nasaruddin Umar, mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan Nyepi sebagai refleksi bersama dalam membangun kehidupan yang damai dan saling menghargai.

“Atas nama Pemerintah Republik Indonesia dan secara pribadi, saya mengucapkan Selamat Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (18/3/2026).

Nyepi dan Ramadan, Simbol Kebersamaan Lintas Iman

Tahun ini, Nyepi terasa lebih istimewa. Perayaannya berlangsung di tengah bulan suci Ramadan dan berdekatan dengan Idul Fitri 1447 Hijriah. Menurut Menag, kedekatan dua momentum keagamaan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan simbol kuat tentang kebersamaan lintas iman.

Ia mengaitkan hal ini dengan filosofi Vasudhaiva Kutumbakam, yang berarti “Satu Bumi, Satu Keluarga.” Sebuah nilai universal yang menegaskan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk mempererat persatuan.

Makna Nyepi: Hening yang Penuh Refleksi

Lebih dalam, Menag menjelaskan bahwa esensi Nyepi tercermin dalam ajaran Catur Brata Penyepian, yang mengandung nilai-nilai kehidupan yang relevan bagi siapa pun, tanpa memandang latar belakang agama.

  • Amati Geni: Mengendalikan api dalam diri, seperti amarah dan ego
  • Amati Karya: Menghentikan aktivitas untuk introspeksi
  • Amati Lelungan: Tidak bepergian, memberi ruang bagi alam untuk beristirahat
  • Amati Lelanguan: Mengurangi hiburan duniawi demi kejernihan batin

Nilai-nilai ini mengajak manusia untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan dan kembali pada kesadaran diri.

Memberi Jeda untuk Alam dan Kehidupan

Menurut Menag, praktik Nyepi juga memiliki makna ekologis yang mendalam. Saat aktivitas berhenti, alam diberi kesempatan untuk “bernapas” dan memulihkan keseimbangannya.

“Dengan menjalankan Nyepi, umat Hindu sesungguhnya sedang memberikan jeda kepada alam semesta. Jika kita memuliakan alam, maka alam pun akan memuliakan harkat kemanusiaan kita,” ungkapnya.

Merawat Indonesia dengan Semangat Kebersamaan

Menag optimistis, semangat Vasudhaiva Kutumbakam akan terus menguatkan peran umat Hindu dalam menjaga kerukunan dan memperkokoh kohesi sosial di Indonesia.

Di tengah realitas keberagaman, pesan Nyepi menjadi semakin relevan: bahwa kedamaian dimulai dari diri sendiri, lalu meluas ke masyarakat, hingga menjadi fondasi bangsa.

“Semoga Ida Sanghyang Widhi Wasa senantiasa melimpahkan kedamaian, kesehatan, dan kesejahteraan bagi kita semua,” tutupnya.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Global Harmony Terbaru