Loading
Planet di Ambang Batas: Dunia Bisa Terkunci dalam Neraka Iklim. (Pixabay)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Para ilmuwan memperingatkan bahwa dunia semakin dekat ke titik balik iklim yang dapat memicu pemanasan global tak terkendali dan mengunci planet ini dalam kondisi yang disebut sebagai Bumi rumah kaca. Dalam skenario tersebut, perubahan iklim tidak lagi bisa dihentikan meskipun emisi gas rumah kaca dikurangi di masa depan.
Penilaian terbaru menyebut pemanasan global berkelanjutan dapat memicu serangkaian titik kritis iklim yang saling memperkuat melalui lingkaran umpan balik. Kondisi ini berpotensi membawa planet ke keadaan iklim baru yang jauh lebih panas dan tidak stabil dibandingkan target kenaikan suhu global 2 hingga 3 derajat Celsius yang saat ini diupayakan komunitas internasional.
Para peneliti menekankan bahwa iklim stabil selama sekitar 11.000 tahun terakhir telah memungkinkan peradaban manusia berkembang. Namun dengan pemanasan global sekitar 1,3 derajat Celsius yang sudah terjadi, cuaca ekstrem kini semakin sering merenggut nyawa dan menghancurkan mata pencaharian di berbagai wilayah dunia. Mereka memperingatkan bahwa jika suhu meningkat hingga 3 sampai 4 derajat Celsius, sistem ekonomi dan sosial global dapat terguncang dan tidak lagi berfungsi seperti sekarang.
Dr. Christopher Wolf dari Terrestrial Ecosystems Research Associates mengatakan bahwa melewati beberapa ambang batas iklim saja sudah cukup untuk mendorong planet menuju jalur rumah kaca. Ia menilai banyak pembuat kebijakan dan masyarakat masih belum menyadari besarnya risiko tersebut. Para ilmuwan menegaskan bahwa membalikkan arah perubahan kemungkinan besar akan mustahil jika dunia sudah berada di jalur menuju kondisi itu.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal One Earth merangkum temuan ilmiah terbaru mengenai 16 elemen kritis sistem Bumi. Di antaranya lapisan es Greenland dan Antartika, gletser pegunungan, es laut kutub, permafrost, hutan hujan Amazon, serta sirkulasi arus laut Atlantik atau AMOC yang berperan penting dalam mengatur iklim global.
Para peneliti menilai beberapa titik kritis mungkin sudah mulai terpicu, khususnya di Greenland dan Antartika barat. Sementara itu permafrost, gletser pegunungan, dan hutan Amazon disebut berada di ambang batas ketidakstabilan. Pelemahan sistem arus laut AMOC juga dinilai dapat memperbesar risiko kerusakan ekosistem Amazon, yang pada gilirannya akan melepaskan karbon dalam jumlah besar dan mempercepat pemanasan global.
Profesor Tim Lenton dari Universitas Exeter menegaskan bahwa bahkan tanpa skenario Bumi rumah kaca sekalipun, pemanasan global 3 derajat Celsius sudah membawa risiko besar bagi masyarakat manusia. Ia menilai jalur iklim saat ini mengandung potensi bahaya yang tidak bisa diabaikan.
Baca juga:
Suhu Global Turun di 2025 karena La Niña, Tapi Ilmuwan Wanti-wanti Rekor Panas Baru Segera DatangPara ilmuwan juga memperkirakan suhu global saat ini mungkin sudah setara atau bahkan lebih panas dibanding periode mana pun dalam 125.000 tahun terakhir, sementara kadar karbon dioksida diduga berada pada tingkat tertinggi setidaknya dalam dua juta tahun.
Mereka menyimpulkan bahwa komitmen aksi iklim global saat ini masih belum cukup untuk mencegah risiko tersebut. Para peneliti menyerukan tindakan cepat karena peluang untuk menghindari dampak iklim yang berbahaya dan tidak terkendali semakin menyempit.