Indonesia Perkuat Strategi Ekonomi Hijau Hadapi Risiko Iklim dan Bencana


 Indonesia Perkuat Strategi Ekonomi Hijau Hadapi Risiko Iklim dan Bencana Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A.A. Teguh Sambodo dalam agenda Dialog Perjalanan dan Refleksi Green Growth Program Fase III (GGP III) yang diadakan Bappenas bersama Global Green Growth Institute Indonesia (GGGI) di Jakarta, Jumat (6/3/2026). ANTARA/HO (Bappenas)

JAKARTA, ARAHKITA.COM  – Indonesia sedang mengubah cara pandangnya dalam membangun masa depan. Jika sebelumnya pertumbuhan ekonomi menjadi fokus utama, kini arah kebijakan nasional semakin jelas: ekonomi hijau menjadi inti dari strategi pembangunan.

Pernyataan ini disampaikan oleh Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo. Menurutnya, pergeseran ini bukan sekadar wacana, melainkan sudah menjadi arus utama dalam kebijakan negara.

“Ekonomi hijau bukan lagi tambahan, tapi sudah menjadi jantung dari perencanaan pembangunan nasional,” ujarnya dalam forum refleksi Green Growth Program Fase III di Jakarta.

Mengapa Ekonomi Hijau Jadi Mendesak?

Perubahan iklim bukan lagi ancaman jauh di masa depan—dampaknya sudah terasa hari ini. Mulai dari cuaca ekstrem hingga meningkatnya bencana hidrometeorologi, semuanya membawa konsekuensi ekonomi yang tidak kecil.

Tanpa langkah serius, Indonesia berpotensi mengalami kerugian hingga Rp500 triliun pada 2025, dan bahkan bisa menembus Rp2.000 triliun pada 2029.

Angka ini menjadi alarm keras: pembangunan tidak bisa lagi berjalan dengan cara lama.

Dari Komitmen ke Aksi Nyata

Komitmen ekonomi hijau sebenarnya sudah mulai dibangun sejak RPJMN 2020–2024. Namun, arah ini kini semakin diperkuat dalam RPJMN 2025–2029, khususnya melalui agenda prioritas nasional.

Hasilnya mulai terlihat.

Sejak 2021, berbagai program kolaborasi dalam Green Growth Program telah mencatat capaian signifikan:

Pengurangan emisi lebih dari 183 juta ton CO2 ekuivalen

Pengelolaan berkelanjutan 12,5 juta hektare ekosistem

Penciptaan 271 ribu lapangan kerja hijau

Akses energi berkelanjutan bagi 276 ribu masyarakat

Dampaknya pun tidak hanya langsung, tetapi juga menjangkau ratusan ribu penerima manfaat lainnya secara tidak langsung.

Kolaborasi Jadi Kunci

Transformasi menuju ekonomi hijau tidak bisa dilakukan sendiri. Sejak 2013, Indonesia menjalin kemitraan dengan Global Green Growth Institute (GGGI), yang berperan dalam:

Penyusunan kebijakan hijau

Penguatan kapasitas institusi

Mobilisasi investasi publik dan swasta

Kemitraan ini menjadi fondasi penting dalam mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Babak Baru: Menuju GIFT 2026

Forum refleksi ini juga menjadi penutup Green Growth Program Fase III sekaligus pintu masuk menuju fase baru: Green Indonesia Future Initiative (GIFT) yang akan diluncurkan pada Juni 2026.

Ke depan, fokus pembangunan hijau Indonesia akan semakin luas, mencakup:

  • Investasi hijau
  • Aksi iklim
  • Penilaian karbon
  • Lanskap berkelanjutan
  • Ekonomi biru dan pesisir
  • Pengembangan industri hijau

Langkah ini akan menjadi bagian dari kerangka kerja Country Planning Framework (CPF) 2026–2030, yang dirancang untuk memperkuat transformasi ekonomi nasional dikutip Antara.

Menuju Masa Depan yang Lebih Tangguh

Perwakilan GGGI Indonesia, Rowan Fraser, menegaskan bahwa perjalanan menuju ekonomi hijau adalah proses panjang yang membutuhkan konsistensi dan kolaborasi lintas sektor.

Melalui inisiatif GIFT, kerja sama ini diharapkan tidak hanya berlanjut, tetapi juga semakin kuat dalam mendorong investasi berkelanjutan di Indonesia.

Pada akhirnya, ekonomi hijau bukan sekadar tentang lingkungan. Ini adalah strategi untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap inklusif, tangguh, dan berkelanjutan di tengah perubahan global yang semakin kompleks.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Green Economy Insight Terbaru